nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Muktamar Pemuda Muhammadiyah dan Sederet Pekerjaan Rumahnya

Bramantyo, Jurnalis · Kamis 22 November 2018 22:13 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 11 22 510 1981489 muktamar-pemuda-muhammadiyah-dan-sederet-pekerjaan-rumahnya-YZVJ4PtbpO.jpg

SOLO - Pemuda Muhammadiyah segera melakukan Muktamar ke-XVII pada 25-28 November 2018 di Yogyakarta. Muktamar tersebut rencananya akan dihadiri Presiden Joko Widodo dan Calon Presiden Nomor Urut 02 Prabowo Subianto.

Uniknya, Wapres Jusuf Kalla yang akan membuka Muktamar tersebut, setelah Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak meminta Wakil Kepala Negara itu untuk membuka Muktamar. Pemilihan JK untuk membuka Muktamar sendiri disebutkan untuk menghindari agenda politis karena tahapan Pilpres sudah dimulai.

Muktamar sendiri rencanaya akan dihadiri sekira 5.000 peserta dan siap memilih ketua umumnya yang baru. Sementara itu, salah satu Calon Ketua Umum (Caketum) Pemuda Muhammadiyah (PM), Sunanto menjelaskan bahwa organisasinya kini berusia 83 tahun.

Pemuda Muhammadiyah, jelas pria yang akrab disapa Cak Nanto ini, memiliki tujuan yang tidak berbeda dengan lahirnya Muhammadiyah yang telah berusia satu abad lebih. Baik Muhammadiyah maupun Pemuda Muhammadiyah terhitung lebih tua dari usia Republik Indonesia.

"Karena itu, sebagai organisasi yang ikut ambil bagian dari proses berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), PM berkewajiban untuk mempersembahkan yang terbaik demi terwujudnya cita-cita kebangsaan dan keumatan," jelas Cak Nanto.

Menurut Cak Nanto, tantangan era reformasi adalah menghapus kemiskinan, korupsi kolusi nepotisme, melawan kebodohan, membangun demokrasi substansial, mewujudkan kesejahteraan sosial, dan membangun hubungan kewargaan yang egaliter, beradab, dan berkemajuan masih menjadi pekerjaan rumah yang belum bisa terselesaikan dengan baik.

(Baca Juga: Wapres JK Terima Pimpinan Pemuda Muhammadiyah)

"Dalam konteks inilah Pemuda Muhammadiyah (PM) merasa terpanggil untuk melakukan dakwah kebaikan (fastabiqul khairat) dalam ruang dialektis sejarah republik Indonesia. Sebagai sebuah organisasi otonom Muhammadiyah, PM memiliki visi mewujudkan cita-cita ke-Indonesiaan dan keIslaman sekaligus," jelasnya.

Kepemimpinan yang dilahirkan muktamar PM, jelas Cak nanto, harus hirau terhadap berbagai problem kebangsaan dan keumatan. Ketimpangan sosial, intoleransi, extrimisme, kebodohan, kemiskinan, oligarki ekonomi dan politik, dan perilaku buruk elit politik, serta beragam persoalan harus mejadi perhatian penting dan PM harus menjadi agen perubahan yang selaras dengan kehendak sejarah.

"Setelah mendengar, berdiskusi, bertemu langsung dengan basis massa dan elit-elit PM se-Indonesia dan demi mewujudkan harapan besar basis massa Pemuda Muhammadiyah se-Indonesia, kami menawarkan kepemimpinan alternatif yang diharapkan dapat menjadi lokomotif pembangunan blok historis Pemuda Muhamamdiyah,"

"Kepemimpinan alternatif itu terbingkai dalam tema besar 'Penguatan Basis Kader dan Optimalisasi Pemberdayaan Kader Pemuda Muhammadiyah Dalam Menyongsong Zaman Baru'," pungkasnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini