Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Disambut Tangis, Ternyata Almarhum Fais Saputra Korban KKB Baru 3 Pekan ke Papua

Herman Amiruddin , Jurnalis-Sabtu, 08 Desember 2018 |20:30 WIB
Disambut Tangis, Ternyata Almarhum Fais Saputra Korban KKB Baru 3 Pekan ke Papua
A
A
A

MAKASSAR - Puluhan pekerja yang tewas dibantai oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) saat membangun proyek jembatan di Kali Yigi dan Kali Aurak, Kabupaten Nduga, Papua, mayoritasnya berasal dari Sulawesi Selatan.

Belasan pekerja proyek jembatan Trans Papua yang digarap PT Istaka Karya itu tewas. Pekerja yang tewas salah satunya Fais Saputra, warga kompleks Perumnas Sudiang, Makassar, Sulawesi Selatan.

Fais termasuk dalam 16 jenazah yang diterbangkan dari Papua dan mendarat dengan pesawat Hercules di Pangkalan Udara (Lanud) Hasanuddin Makassar pada Jumat 7 Desember kemarin.

Jenazahnya kemudian dijemput oleh keluarga dan langsung diantar menggunakan mobil ambulans menuju rumah duka di kompleks Perumnas Sudiang, Makassar.

Saat jenazah tiba di rumah duka, tangis pecah dari keluarga dan istrinya. Suasana haru kembali menyelimuti kediaman Fais, saat peti jenazahnya dibawa masuk ke dalam rumah duka. Terlihat sang istri menangis histeris.

Lukman, mertua Fais mengatakan sebelum berangkat bekerja ke Papua ia bekerja sebagai pedagang di Makassar. Namun Fais sengaja mengambil pekerjaan itu sebagai pekerja bangunan di Papua.

"Dia baru berangkat ke Papua sejak tiga pekan lalu. Saya juga tidak tahu kenapa Fais ambil pekerjaan bangunan di sana, padahal di sini dia berdagang. Mungkin ini sudah panggilan dari Yang Maha Kuasa," kata Lukman.

Fais sendiri dimakamkan di tempat pemakaman umum (TPU) Sudiang, Makassar, Sabtu (8/12/2018) pagi tadi. Fais meninggalkan seorang istri serta sepasang anak laki-laki dan perempuan.

Istri Fais, Fadilla Uliyah mengatakan suaminya bekerja di Papua tiga pekan lalu bersama tujuh orang lain. Lima di antaranya merupakan keluarga.

"Sebelum dia berangkat ke lokasi kerjanya saya sempat komunikasi. Karena di lokasi kerja katanya tidak ada sinyal," kata Fadilla.

Fadillah mengaku baru sekali ini suaminya pergi ke Papua untuk mencari nafkah. Namun dia belum mengetahui kabar mereka usai kejadian penyerangan oleh kelompok bersenjata di distrik Mbua.

"Saya komunikasi lewat telefon terakhir dengan dia (Fais) tanggal 13 November," ungkap Fadillah.

(Khafid Mardiyansyah)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement