4. Penghapusan Perbudakan di Amerika Serikat
Perbudakan di Amerika Serikat adalah perlembagaan absah mengenai perbudakan manusia yang pernah ada di Amerika Serikat (AS) pada abad ke-18 dan 19. Perbudakan pernah dilaksanakan di Amerika Utara jajahan Britania dari masa-masa awal penjajahan, dan diakui juga di Tiga belas Koloni pada saat Proklamasi Kemerdekaan AS tahun 1776.
Ketika Amerika Serikat didirikan, meskipun beberapa orang berwarna kulit bebas ada di AS, status para budak biasanya bersamaan dengan keturunan Afrika (berkulit hitam), hal ini membuat sebuah sistem dan tradisi di mana ras memainkan peran yang sangat berpengaruh.
Baca juga: Fakta Pawai Persija: Kolam Balkot Ditutup hingga Janji Anies Bangun Stadion
Kebanyakan orang yang menjadi budak di AS adalah orang yang berkulit hitam dan dimiliki orang yang berkulit putih, meskipun beberapa penduduk asli dan orang berkulit hitam juga memiliki budak. Terdapat pula budak berkulit putih, namun jumlahnya sedikit. Mayoritas pemilik budak berada di Amerika Serikat Wilayah Selatan, di mana kebanyakan dijadikan "mesin" untuk pertanian.
Perbudakan di Amerika Serikat berlangsung secara legal hingga diambilnya Amandemen Konstitusi Amerika Serikat ke-13 pada 18 Desember 1865. Amandemen ketiga belas yang menghapus perbudakan, kecuali sebagai hukuman untuk kejahatan, disetujui oleh Senat pada bulan April 1864 dan oleh House of Representatives pada bulan Januari 1865.
Secara hukum pada ratifikasi terakhir Amendemen Ketiga belas terhadap UUD AS, sekitar 40.000 hingga 45.000 budak-budak terakhir AS dibebaskan di negara bagian budak terakhir, Kentucky, sebuah negara bagian Amerika Serikat yang terletak di bagian selatan AS.
5. Ditemukan Manusia Piltdown
Pada 18 Desember 1912, Charles Dawson mengklaim bahwa dirinya telah menemukan sebuah tengkorak hominid (keluarga taksonomi dari primata) di daerah penggalian Piltdown, dekat Uckfield di Sussex, Inggris, dan menamakan tengkorak hominid tersebut dengan nama latin Manusia Piltdown yang artinya "Manusia Senja Dawson.
Baca juga: Peristiwa 14 Desember: Penembakan Tewaskan 20 Anak dan Harga Fantastis Lukisan Mona Lisa
Penemuan ini dianggap oleh para palentologis Inggris sebagai suatu kunci pembukti hubungan antara kera dengan manusia, karena adanya kranium (bagian tulang yang membungkus otak) yang mirip milik manusia dan rahang berbentuk seperti rahang kera.
Banyak yang meragukan penemuan ini hingga dikabarkan adanya penemuan kedua (Piltdown II) pada tahun 1915. Meskipun begitu, semakin sulit bagi para ahli untuk menemukan persamaan antara Manusia Piltdown dengan penemuan hominid (yang asli) lainnya dan Manusia Piltdown hampir bisa dikatakan telah diabaikan oleh para ahli pada sekitar akhir 1930-an. Setelah melalui tes penyerapan florim pada 1949 dan penanggalan ulang usia tanah di Piltdown, Manusia Piltdown akhirnya dinyatakan sebagai sebuah penipuan pada tanggal 21 November 1953.
Manusia Piltdown secara harafiah merupakan setengah-kera dan setengah-manusia. Ia terdiri dari tengkorak manusia zaman pertengahan yang rahang bagian bawahnya berasal dari seekor orangutan dari Kalimantan (Indonesia) dan fosil giginya dari simpanse. Umurnya pun disamarkan dengan menodai tulang-tulangnya dengan larutan besi dan asam kromat.
Ada dua alasan mengapa penipuan ini bisa bertahan selama 40 tahun. Pertama, Cahrles Dawson ingin memuaskan keinginan orang-orang Eropa agar manusia terawal berasal dari Eurasia, dan kedua, orang Inggris juga menginginkan seorang "manusia pertama dari Inggris" setelah kabar ditemukannya manusia purba di Perancis dan Jerman (Manusia Neanderthal). Rasa cemburu inilah yang menyebabkan tengkorak dan rahang palsu tersebut disimpan dan dihindarkan dari mata publik.
Baca juga: Peristiwa 13 Desember: Deklarasi Djuanda, Hari Nusantara hingga Lahirnya Taylor Swift
6. Lahirnya Silas Papare
Silas Papare lahir di Serui, Papua, 18 Desember 1918, ia adalah seorang pahlawan nasional Indonesia yang sangat gigih dalam memperjuangkan kemerdekaan Papua, salah seorang pejuang yang ikut andil dalam menyatukan Irian Jaya (papua) ke dalam wilayah Indonesia.
Namanya diabadikan menjadi salah satu Kapal Perang Kovert kelas Parchim TNI AL KRI Silas Papare dengan nomor lambung 386. Selain itu, didirikan Monumen Silas Papare di dekat pantai dan pelabuhan laut Serui.
Sementara di Jayapura, namanya diabadikan sebagai nama Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik (STISIPOL) Silas Papare, yang berada di Jalan Diponegoro. Sedangkan di kota Nabire, nama Silas Papare dikenang dalam wujud nama jalan.
(Fakhri Rezy)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.