nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Literasi Bencana di Indonesia Sangat Buruk

Windy Phagta, Jurnalis · Kamis 27 Desember 2018 14:33 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2018 12 27 337 1996632 literasi-bencana-di-indonesia-sangat-buruk-Fkn6LeNBAZ.jpeg Gunung Anak Krakatau erupsi (Courtesy: Susi Air)

BANDA ACEH – Indonesia yang berada di atas tiga tumbukan lempeng benua dan di kelilingi cincin api Pasifik sangat rawan berbagai bencana. Tapi, meski diterjang aneka petaka, literasi bencana di Indonesia masih sangat buruk. Bencana yang terjadi masa lampau sering dilupakan begitu saja. Padahal seharusnya dijadikan pelajaran untuk membangun mitigasi.

Hal itu terungkap dalam diskusi ‘Membangun Gerakan Literasi Kebencanaan” dalam rangka 14 tahun tsunami Aceh digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Banda Aceh, Kamis (27/12/2018). Diskusi yang berlangsung di Sekolah Muharram Journalism Collage (MJC) menghadirkan dua pemateri; jurnalis spesialis isu bencana, Ahmad Arif dan Megumi Sugimo, akademisi dari Kyusu University Jepang.

“Indonesia tingkat literasinya sangat buruk sekali,” kata Ahmad Arif yang juga penulis buku ‘Jurnalisme Bencana, Bencana Jurnalisme’.

Menurutnya, literasi tidak hanya sekadar membaca, tapi bagaimana memahami tentang pendidikan kebencanaan itu sendiri. Karena literasi bencana yang buruk, maka informasi bohong alias hoaks merajalela di Indonesia.

“Makanya hoaks sangat cepat menyebar di Indonesia,” ujarnya.

 

Diskusi 'Membangun Gerakan Literasi Kebencanaan' (AJI Banda Aceh)

Dia menyebutkan para ahli geologi dan arkelogi telah menemukan jejak tsunami di Aceh. Ini membuktikan tsunami telah beberapa kali menerjang provinsi ujung barat Indonesia itu. Namun karena pengaruh literasi yang terputus menimbulkan ketidaktahuan masyarakat Indonesia ketika gempa besar disusul gelombang tsunami pada 26 Desember 2004.

Arif mencontohkan, seperti kampung runtuh di Kelurahan Talise, Palu Timur, Sulawesi Tengah. Tsunami yang menerjang pesisir Palu pada 28 September 2018 lalu ternyata jauh sebelumnya juga pernah terjadi.

(Baca juga: Terpengaruh Isu Tsunami, Ratusan Warga Gorontalo Mengungsi) 

Cerita tentang tsunami masa lalu pernah ditulis Arif dan artikelnya dimuat di media tempatnya berkerja pada 2012. Orang Palu menyebut Bombatalu untuk tsunami dan nalodo untuk likuefaksi. Tapi, pengalaman itu tidak mampu menyelamatkan masyarakat saat tsunami menerjang pesisir Sulteng September 2018 lalu.

“Padahal di Palu masih banyak saksi hidup yang pernah merasakan tsunami masa lalu, namun pengtahuan ini yang tidak dirawat oleh warga di sana,” sebut Arif.

 

Hal sama terjadi dengan tsunami di pesisir Selat Sunda. Ini juga bukan kali pertama terjadi karena seadab silam, tsunami juga pernah menerjang daratan akibat letusan Krakatau. Tapi, sejarah itu tidak dijadikan dorongan untuk meningkatkan kewaspadaan dan mitigasi.

(Baca juga: Mengetahui 5 Tanda Alam Jelang Tsunami Beserta Cara Menyelamatkan Diri

Namun demikian, kata Arif, cerita ini berbanding terbalik dengan masyarakat Kepulauan Simeulue, Aceh. Mereka di sana masih menjaga erat kearifan lokal literasi kebencanaan.

“Pengetahuan lokal masih dijaga diwariskan secara turun temurun. Misalnya di disebut smong untuk tsunami. Ini yang membuat masyarakat di sana bisa selamat walaupun rumahnya hancur,” imbuhnya.

Ahmad Arif tak menampik literasi di Indonesia sangat buruk. Berdasarkan survey yang dilakukan oleh World’s Most Literate Nations tahun 2006. Indonesia peringkat ke 60 dari 61 negara yang diteliti.

“Sehingga kita kurang tau mana hoaks dan benar. Sehingga ketidaktahuan dan memahami ini menjadi masalah,” jelasnya.

 (Baca juga: Banyak Alat Pendeteksi Tsunami Tidak Berfungsi dan Dicuri)

Ahmad Arif menyebutkan, lemahnya literasi di Indonesia membuat banyak orang tidak mengetahui Indonesia rawan terhadap gempa dan tsunami.

Sementara Megumi Sugimo menilai, kelemahan Indonesia adalah kurangnya media dalam hal menyampaikan pengetahuan tentang gempa dan tsunami. Di Jepang, banyak channel yang memberikan informasi tentang hal-hal berkaitan dengan tsunami.

“Kalau di Jepang banyak channel untuk menginformasikan tsunami seperti televisi, radio, dan telepon,” kata Megumi.

Kasus tsunami Palu misalnya, Megumi melihat tidak ada tanda-tanda peringatan sebelum tsunami itu menerjang pesisir. Padahal setelah tahun 2004 Indonesia bekerjasama dengan Jerman untuk mengadakan sistem peringatan tsunami. Namun banyak kasus sistem ini kemudian dirusak dan dicuri sehingga tidak berfungsi ketika terjadi gempa.

“Parahnya lagi sistem yang ada di Indonesia hanya fokus pada tsunami akibat gempa. Di Jepang juga ada kasus yang sama tetapi tidak cukup hanya sistem peringatan tsunami yang dijadikan isu ketika terjadi bencana, tapi juga berapa cepat tsunami itu datang,” tuturnya.

Selain itu, Megumi juga menceritakan pengalaman kejadian di Tohoku tahun 2011, kawasan yang diprediksi tsunami kecil nyatanya lebih luas dari itu. Padahal di sana sudah dibangun talud untuk menghalau ombak. Prediksi sainstik juga tidak terlalu benar, bahkan escape buildingpun terkena dampak tsunami dan tidak aman.

“Ini di luar prediksi sainstik, sebanyak 26 orang menjadi korban di escape building. Dalam kasus itu bahkan peneliti belum bisa prediksi berapa kekuatan gempa yang terjadi. Infrastruktur yang dibangun untuk kebencaan tidak cukup, tetapi harus dibangun kesadaran masyarakat salah satunya melalui Tugu tsunami,” ungkapnya.

“Tugu pertanda pernah terjadi tsunami di suatu daerah itu penting untuk mengingatkan generasi ke depan. Sehingga bila kembali terjadi tsunami bisa mengurangi jatuh korban,” tambahnya.

1 / 2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini