nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kesaksian Dayanti, Ibu dari Balita yang Meninggal Akibat Puting Beliung di Cirebon

Fathnur Rohman, Jurnalis · Senin 31 Desember 2018 21:13 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2018 12 31 525 1998391 kesaksian-dayanti-ibu-balita-yang-meninggal-akibat-puting-beliung-di-cirebon-IvnbchduhQ.jpg Kondisi Dayanti, Ibu Balita yang Meninggal Dunia Akibat Puting Beliung di Cirebon (foto: Fathnur Rohman/Okezone)

CIREBON - Saat itu, Minggu 30 Desember 2018, Dayanti (26) dan sang suami Suheryanto (38) tetap melakukan aktifitas seperti biasanya, tak ada keanehan apapun, hanya perasaan senang yang dirasakannya, meski awan hitam yang kerap disebut cumulonimbus itu sejak pukul 15.00 WIB sudah menyelimuti wilayah Desa Panguragan Kulon, Kecamatan Panguragan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.

Di rumah yang baru berdiri sekitar enam bulan tersebut, ia beserta keluarganya yang berjumlah sekira 9 orang, saling berinteraksi. Kala itu, selain Herdiyanto (4) anak pertamanya, kehadiran anak keduanya yang baru menginjak umur enam hari, menjadi pusat kebahagian sekaligus pemecah kesunyian di dalam kediamannya.

Puting Beliung di Cirebon, Jawa Barat (foto: Fathnur Rohman/Okezone)

(Baca Juga: Cirebon Diterjang Puting Beliung, 1 Orang Balita Tewas hingga 165 Bangunan Hancur) 

Pada pukul 15.30 WIB, awan cumolonimbus kian menyebar menutupi langit biru di Desa Panguragan Kulon. Sehari sebelumnya atau pada Sabtu 29 Desember, BMKG Stasiun Jatiwangi memprediksi cuaca buruk akan menimpa kawasan Cirebon dan sekitarnya.

Lalu sekira pukul 16.00 WIB, anak kedua Dayanti yang lahir bertepatan dengan perayaan Natal itu, mulai menangis kencang. Kebahagian yang hadir di tegah-tengah keluarga kecil tersebut perlahan sirna, dengan datangnya angin puting beliung berkecepatan 80-100 KM per jam.

Angin puting beliung itu mulai memporak-porandakan bangunan di sekitar kediamannya. Dayanti yang baru saja pulih setelah melahirkan anak keduanya itu, bergegas ke luar rumah bersama sang suami untuk melihat situasi.

"Saat itu kebetulan keluarga sedang kumpul, mertua saya lagi menengok anak saya yang kedua ini. Ada sembilan orang di dalam rumah. Saya sempat keluar dulu buat lihat angin," kata Dayanti kepada Okezone, di Panguragan Wetan, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (31/12/2018).

Demi keselamatan kedua buah hatinya, Dayanti dan suaminya memutuskan untuk masuk kembali ke dalam rumah, guna berlindung dari amukan angin puting beliung dengan kecepatan 80-100 KM per jam itu. Di dalam rumah tersebut, satu sama lain berusaha untuk saling melindungi, sang suami memegang erat putra pertamanya Herdiyanto. Sedangkan si bayi digendong oleh mertua Dayanti.

"Kasihan ada anak-anak di dalam rumah, jadi kita masuk lagi untuk selamatkan anak-anak, suami saya memegang Herdiyanto dan ibu saya menggendong anak saya yang kedua," ujar Dayanti sembari mengingat peristiwa tersebut.

Dayanti, Ibu Balita yang Meninggal Akibat Puting Beliung di Cirebon	Kondisi Dayanti, Ibu Balita yang Meninggal Akibat Puting Beliung di Cirebon (foto: Fathnur Rohman/Okezone) 

Dayanti hanya bisa mengingat dan terus menyebut lafadz Allah, agar keluarganya bisa selamat dari amukan puting beliung. Namun sial baginya, rumah yang dijadikan tempat berlindung itu ambruk, suasana mulai kacau, tangan sang suami tertimpa batu bata dan mengakibatkan terlepasnya Herdiyanto dari genggamannya.

Di waktu yang bersamaan, adik ipar Dayanti tertindih oleh reruntuhan rumahnya. Ia dan sang suami kemudian bergegas menolongnya, sementara anak pertamanya masih tertimbun reruntuhan.

"Tangan suami saya kena batu bata, jadi genggamannya lepas. Anak saya tertimbun. Waktu itu saya dan suami berusaha menolong adik ipar saya, " ungkap dia.

20 menit situasi mencekam itu berlalu, rumah yang berdiri kokoh, akhirnya rata dengan tanah. Semua keluarganya luka-luka, termasuk juga sang bayi yang direncanakan akan diberi nama Dewi Natalia itu, sementara Herdiyanto masih tertimbun reruntuhan bangunan.

"Anak saya tertimpa reruntuhan juga, semua keluarga saya kena. Adik ipar saya, hanya kepalanya saja saya yang terlihat," tuturnya.

Warga sekitar langsung melakukan pertolongan, dengan mengangkat puing-puing bangunan yang menimbun Herdiyanto. Ketika berhasil diselamatkan kondisi Herdiyanto sangat lemah, ia pun langsung dilarikan ke rumah sakit terdekat.

(Baca Juga: Video Detik-Detik Puting Beliung di Cirebon Terbangkan Atap Rumah Warga) 

"Herdiyanto itu usianya empat tahun, dia tidak selamat. Dia meninggal saat dalam perjalanan ke rumah sakit," kenang Dayanti dengan mata berkaca-kaca sembari menggendong anak keduanya.

Pasca kejadian tersebut, kini Dayanti serta suaminya mengungsi di rumah kerabatnya. Saat ditemui Okezone, ia mengaku masih trauma dengan kejadian tersebut, dan belum berani melihat kondisi rumah, hasil dari jeripayah suaminya yang bekerja sebagai kuli barang rongsok tersebut.

Peristiwa yang menimpanya itu pasti akan membekas di dalam ingatannya. Kini, Dayanti dan beberapa warga lain yang menjadi korban ganasnya puting beliung, saat ini sangat membutuhkan bantuan, baik berupa kebutuhan logistik maupun obat-obatan.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini