NIAS – Faigi Dosi Ndruru (82), lelaki tua yang sudah berusia senja dan hidup sebatang kara di pengunungan di Desa Maliwa'a, Kecamatan Idanogawo, Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara, membutuhkan bantuan. Di usianya yang uzur untuk menyambung hidupnya, terkadang mendapat bantuan atau belas kasihan penduduk Desa.
Aktivis Pemberdayaan dan bekerja sebagai Pendamping Lokal Desa (PLD), Onlihu Ndraha, warga Desa Tagaule, Kecamatan Bawolato, Nias menerangkan, lelaki tua beenama Faigi Dosi Ndruru itu hidup sebatang kara dari tahun 2005-an setelah memilih pisah dari saudaranya di Desa Maliwa'a serta mendirikan gubuk di tanah milik orang di pengunungan.
"Faigi Dosi Ndruru sepanjang hidupnya tidak memiliki istri maupun anak. Sebelum dia (Faigi Dosi Ndruru) mendirikan gubuk di tanah orang lain di pengunungan, dia tinggal bersama saudaranya di Desa Maliwa'a. Namun karena dia tidak ingin menjadi beban bagi saudaranya, sejak tahun 2005, dia pindah dan tinggal di gubuk di pengunungan atau sekitar jarak 2 kilometer dari Desa Maliwa'a," terang Onlihu Ndraha kepada Okezone, Rabu (2/1/2019).
Baca Juga: Perjuangan Indah Mencari Darah untuk Penyambung Hidup

Onlihu Ndraha mengisahkan, atas adanya laporan Kepala Desa dan perangkat Desa sekitar dua bulan lalu, dia menyambangi tempat tinggal Faigi Dosi Ndruru untuk melihat kondisi riil. Lelaki tua itu tinggal di gubuk, berada di atas gunung yang jauh dari keramaian orang.
Gubuk itu sudah lapuk. Tidur beralaskan tikar terbuat dari goni dan bantal dari kayu. Lelaki tua itu juga, sama sekali tidak mengerti bahasa Indonesia.
Lelaki tua itu, sebut Onlihu Ndraha, untuk memenuhi kebutuhan pokok setiap hari, dia turun gunung menjual kayu bakar kepada warga Desa. Dan terkadang, mendapat belas kasih dari masyarakat Desa.
