JAKARTA - Munculnya fenomena pasangan calon presiden dan wakil presiden fiktif, Nurhadi - Aldo kini sangat mencuri perhatian dan menjadi perbincangan masyakarat, terutama media sosial Twitter dan Instagram.
Menurut Mantan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU), Sigit Pamungkas, hadirnya Nurhadi-Aldo dengan berbagai macam kelucuan yang diperlihatkan menjadi pencair suasana ditengah tegangnya isu-isu politik dalam Pilpres 2019.
"Iya betul ini melemaskan, meluweskan, membuka ruang komunikasi menjadi lebih enak terhadap semua pihak, baik pendukung maupun penantang," ujar Sigit Pamungkas saat ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Sabtu (5/1/2019).
(Baca Juga: Nurhadi-Aldo: Dari Tukang Pijat Sampai Jadi Capres-Cawapres Guyonan)
Sigit menyebutkan, Nurhadi-Aldo dengan satire terhadap politik ataupun Pemilu bukan sebuah fenomena yang baru. Ia menilai banyak satire yang muncul ketika seseorang atau sekelompok masyarakat sudah mulai jenuh dan muak terhadap sesuatu hal.
"Satire itu sebenarnya bukan fenomena baru di dalam kepolitikan dan tradisi komunikasi politik di Indonesia. Biasanya satire muncul pada saat sebuah proses itu mencapai titik jenuh," ungkapnya.
"Saluran-saluran untuk mengungkapkan kegelisahan sudah tidak didengar atau sudah mampet, maka satir itu yang dpakai. Nah apa yang muncul saat ini adalah bagian dari proses itu," lanjut Sigit Pamungkas.
Dengan munculnya satire seperti Nurhadi-Aldo ini, Sigit Pamungkas berharap bisa menormalkan kembali pikiran masyarakat yang sudah jenuh ditengah berbagai macam isu-isu Pemilu 2019 yang sampai saat ini justru semakin menjadi-jadi.
"Dengan satire ini dia ingin menormalkan akal pikir dari masyarakat, akal pikir dari mereka yang berkontestasi, akal pikir dari mereka yang menjadi pendukung masing-masing pihak untuk melihat secara lebih rileks, secara lebih luwes, secara lebih santai tentang fenomena-fenomena politk yang menjadi-jadi," tutupnya.
(Fiddy Anggriawan )