Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Sambangi Ma'ruf Amin, Yahya Staquf Bahas RUU Pesantren hingga Strategi Rekonsiliasi Pasca-Pemilu

Fahreza Rizky , Jurnalis-Senin, 07 Januari 2019 |16:40 WIB
Sambangi Ma'ruf Amin, Yahya Staquf Bahas RUU Pesantren hingga Strategi Rekonsiliasi Pasca-Pemilu
Cawapres nomor urut 01, KH Ma'ruf Amin. (Foto : Muhamad Rizky/Okezone)
A
A
A

JAKARTA – Khatib 'Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf menemui calon wakil presiden nomor urut 01 KH Ma'ruf Amin di rumah Situbondo, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (7/1/2019).

Dalam kesempatan itu, keduanya membincangkan banyak hal, termasuk strategi rekonsiliasi pasca pesta demokrasi.

Yahya yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) ini mengatakan, dirinya meminta masukkan kepada Ma'ruf Amin terkait penyelenggaraan acara konferensi besar dan musyawarah nasional alim ulama PBNU pada Februari 2019.

"Kiai Ma'ruf Amin adalah seseorang yang tidak boleh tidak, harus diminta pandangan-pandangan dan nasihat beliau," ujar Yahya di lokasi.

Ia menuturkan, dirinya dan Ma'ruf juga sempat menyinggung pembahasan RUU Pesantren yang saat ini sedang bergulir. Selain itu, dirinya pun membincangkan strategi rekonsiliasi bagi bangsa usai perhelatan pesta demokrasi.

KH Yahya Cholil Staquf. (Youtube)

"Ada sejumlah hal yang sangat mendasar yang beliau rasakan. Misalnya adalah pentingnya membangun strategi ke arah rekonsiliasi yang harus dipikirkan sejak sekarang. Kita tahu ini bahwa kompetisi politik, bukan hanya Pilpres ini saja, di berbagai tingkatan, di Pilkada, ini cenderung mengakibatkan polarisasi masyarakat," ujar Yahya.

"Jadi, kita mulai pikirkan bagaimana strategi kita untuk membangun rekonsiliasi. Supaya nanti apapun hasilnya, dari kompetisi politik itu. Harus menjadi milik bersama. Itu yang menjadi pandangan yang paling mendasar yang harus diperhatikan," sambung dia.

(Baca Juga : PSI Bantah Kebohongan Award Rugikan Koalisi Jokowi-Ma'ruf Amin)

Sementara, Ma'ruf Amin ingin Pemilu 2019 menyebabkan masyarakat terpecah belah. Karena itu, strategi rekonsiliasi pasca pesta demokrasi menjadi penting untuk diperbincangkan.

"Ya tentu harus kita itu jangan sampai pemilu sebabkan perpecahan. Pemilu ini kan kita lakukan per 5 tahun, keutuhan bangsa harus kita jaga sepanjang masa," tutupnya.

(Baca Juga : Duhai Medsos... Postingan Capres Fiktif Nurhadi-Aldo pun Dipalsukan)

(Erha Aprili Ramadhoni)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement