Aksi Seorang Diri, Warga Solo Protes Desain Surat Suara Pilpres

Bramantyo, Jurnalis · Rabu 09 Januari 2019 17:00 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 01 09 605 2002135 aksi-seorang-diri-warga-solo-protes-desain-surat-suara-pilpres-xubBapLXjc.jpg Bambang Saptono aksi seorang diri protes desain surat suara Pilpres 2019 (Foto: Bramantyo)

SOLO - Desain surat suara pemilihan presiden (Pilpres) 2019 dinilai bisa merugikan pasangan calon presiden dan wakil presiden (capres-cawapres) nomor urut 01, membuat seorang warga Solo melakukan aksi protes seorang diri di Bunderan Gladak, Jalan Slamet Riyadi, Solo.

Pantauan Okezone, meski dilakukan seorang diri, aksi memprotes desain surat suara Pilpres yang dilakukan Bambang Saptono ini menarik perhatian para pengguna jalan.

Sambil membawa dua buah contoh disain kartu suara Pilpres yang memuat pasangan Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto- Sandiaga Uno, Bambang menunjukan di mana paslon capres dan cawapres nomor urut 01 ini bakal dirugikan bila pihak KPU tetap mencetak desain kartu suara itu.

(Baca Juga: Jokowi-KH Ma'ruf Unggul dalam Sejumlah Survei

Warga Solo protes desain surat suara

Pertama, pada desain surat suara itu tidak tertera adanya tanggal pelaksanaan Pilpres. Seharusnya, ungkap Bambang, pada surat suara itu dicantumkan tanggal pelaksanaan Pilpres.

"Masalah tanggal, harusnya di kasih 17 April 2019, biar jelas pemilunya itu kapan. Tapi didesain ini tidak ada tanggal," jelas Bambang, Rabu (9/1/2019).

Poin kedua terletak pada redaksional di surat suara. Di mana, seharusnya dalam surat suara itu tertera tulisan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2019.

"Harusnya lengkap, ditulis jadi Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024, dokumen negara harus lengkap," ujarnya.

(Baca Juga: KPU, Parpol, dan Timses Sepakati Format Surat Suara Pemilu 2019

Selain kedua poin itu, Bambang menyoroti garis batas pada foto pasangan calon nomor 01. Apalagi, paslon nomor urut 01 menggunakan pakaian warna putih. Sehingga, bila tidak diberi tambahan garis bisa mempengaruhi saat pencoblosan.

"Kebetulan Paslon 01 itu pakaiannya berwarna putih dan background surat suara juga putih. Nah, ini bisa merugikan karena batas di mana boleh dicoblos dan mana yang tidak bisa di coblos tidak terlihat. Biar tidak merugikan karena ada kemungkinan tercoblos di luar kotak, maka saya usulkan agar diberi garis," paparnya.

Desain surat suara 

Menurut Bambang, KPU harus segera merevisi surat suara agar tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Apalagi, masih ada waktu untuk melakukan revisi sebelum masuk ke percetakan pada 15 Januari.

"Harapan saya agar dokumen negara ini bisa sempurna redaksionalnya, tidak mengandung masalah dan Pemilu 2019 bisa sukses terlaksana untuk segera diperbaiki," paparnya.

Sebelum mengakhiri aksinya, Bambang memasang famlet kartu suara di papan Graha Solo Raya, meskipun saat memasang, salah satu aparat polisi yang menjaga aksi tunggal sempat melarang, namun Bambang tetap nekat memasang famlet.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini