nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Situasi Rutan Solo Pasca-Rusuh Berangsur Normal

Bramantyo, Jurnalis · Kamis 10 Januari 2019 20:55 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 01 10 512 2002803 situasi-rutan-solo-pasca-rusuh-berangsur-normal-XVFLgX8XHk.jpg Rutan Solo (Foto: Bramantyo)

SOLO - Situasi Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IA Solo, Jawa Tengah berangsur normal pasca-kerusuhan. Penjagaan aparat kepolisian dan kendaraan taktis yang sebelumnya disiagakan sudah tak terlihat lagi.

Informasi dihimpun Okezone, agar bentrokan tak terulang, kepolisian memindahkan Iwan Walet dan lima anggota laskar yang ditahan di Rutan Kelas IA ke tempat yang lain.

Mereka dibawa ke luar rutan dengan menggunakan dua kendaraan berbeda dengan dikawal ketat. Tak diketahui, di mana selanjutnya para tahanan ini dipindahkan.

(Baca Juga: Kronologi Bentrokan Laskar Islam Vs Napi Kriminal di Rutan Solo)

Insiden bentrokan yang terjadi di dalam rutan sempat berbuntut kedatangan massa yang memaksa masuk ke dalam rutan. Kejadian itu disayangkan Humas Laskar Umat Islam Surakarta (Luis) Ustad Endro Sudarsono.

Rutan Solo

Menurut Ustad Endro, kejadian seperti ini sering terjadi. Belajar dari bentrokan sebelumnya, pihak rutan seharusnya bisa membaca situasi guna mengantisipasi bentrokan terulang.

"Kami menyayangkan kejadian ini berulang di Rutan Solo. Rutan mestinya sudah bisa membaca situasi, mengantisipasi atas insiden ini. Karutan (kepala rutan) harus berbenah, jangan sampai suasana rutan tidak nyaman," terang Endro, Kamis (10/1/2019).

Apalagi, kericuhan awalnya dipicu ada beberapa orang yang menjenguk rekannya di Rutan Solo. Saat di dalam rutan itulah, mereka cekcok dan saling ejek dengan narapidana lainnya.

Nama Iwan Walet kembali terlibat. Hal itu berbuntut berdatangannya ratusan orang yang memaksa masuk ke dalam rutan dengan meneriakan nama Iwan Walet.

Kejadian ini mengingatkan kembali bentrokan yang terjadi pada 5 Mei 2012 silam. Saat itu, polisi menangkap enam orang pascabentrokan warga dengan ormas yang terjadi selama dua hari di Solo.

Enam orang yang ditangkap diduga sebagai provokator pemicu bentrokan. Dua di antaranya yaitu Iwan Walet dan Agus Cobok dianggap sebagai dalang. Kala itu, kota Solo masih dipimpin Joko Widodo (Jokowi).

(Baca Juga: Bentrokan di Rutan Solo Munculkan Nama Iwan Walet, Siapa Dia?)

Rutan Solo

Saat bentrokan yang dikenal dengan "Kejadian Gandekan", Wali Kota Solo, Jokowi memastikan bentrokan yang terjadi di kotanya bukan perseteruan antara warga dengan organisasi kemasyarakatan. Namun, antara sekelompok pemuda (preman) dengan ormas keagamaan.

"Ini bukan perserteruan antara warga dan laskar, tapi ini perseteruan lama dua kelompok individu, satu di kelompok preman, yang satunya di kelompok laskar," jelas Jokowi saat itu pada okezone.

Kasus yang terjadi di Gandekan sebenarnya diawali sejak 2008. Saat itu, telah terjadi bentrok antara ormas dengan warga Kusumodilagan yang menyebabkan tewasnya seorang warga bernama Heru Yulianto alias Kipli.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini