nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jurnalis Prancis Dipukuli, Diancam Diperkosa saat Liput Demonstrasi Rompi Kuning

Indi Safitri , Jurnalis · Senin 14 Januari 2019 18:01 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 14 18 2004305 jurnalis-prancis-dipukuli-diancam-diperkosa-saat-liput-demonstrasi-rompi-kuning-S07D5UVT9y.jpg Foto: Reuters.

PARIS – Organisasi pengawas jurnalistik Reporter Without Borders meminta juru bicara yang bertanggung jawab untuk berbicara ke para demonstran “rompi kuning” Prancis untuk mengutuk berbagai serangan dan ancaman terhadap wartawan yang terjadi selama putaran terakhir demonstrasi anti pemerintah pada Sabtu, 12 Januari.

“Titik balik telah tercapai,” ujar Christophe Deloire, sekretaris jenderal pengawas hak media yang berbasis di Paris kepada saluran televisi BFM.

loading...

“Kami menghadapi situasi sangat serius yang mengancam situasi untuk menjadi lebih buruk,” katanya, setelah adanya laporan wartawan yang dipukuli, ditendang dan diancam dengan pemerkosaan selama demonstrasi rompi kuning pada Sabtu lalu.

“Kami meminta juru bicara rompi kuning untuk benar-benar mengutuk kekerasan yang meningkat terhadap jurnalis selama demonstrasi,” ujarnya, sebagaimana dilansir dari AFP pada Senin (14/1/19).

Meski Deloire memberikan penghargaan kepada para demonstran yang membantu melindungi jurnalis, ia juga mengecam mereka yang melakukan “pemerasan anti-demokrasi yang tidak dapat diterima”.

BACA JUGA: Prancis Kembali Bergolak: Berikut yang Perlu Diketahui Tentang Gerakan Rompi Kuning

Sebagian dari para demonstran juga mengatakan kepada wartawan, “jika Anda tidak meliput peristiwa persis seperti yang kami lihat, maka kami berhak untuk menyerang Anda”.

Beberapa demonstran rompi kuning pada Sabtu dilaporkan mengepung dan memukuli seorang petugas keamanan yang menemani wartawan televisi LCI di kota utara Rouen dan berakhir dengan mematahkan hidungnya.

Di kota selatan Toulon, dua wartawan video AFP diancam oleh pengunjuk rasa dan terpaksa mencari perlindungan di sebuah restoran. Sementara di Marseille, sejumlah demonstran menghina wartawan dari televisi France 3 dan juga dua fotografer lokal, mencegah mereka menjalankan pekerjaannya.

Di sebelah tenggara Prancis, seorang jurnalis ditendang di kota Pau, sementara seorang reporter wanita dari surat kabar Prancis, La Depeche du Midi diancam dengan pemerkosaan di Toulouse.

Pada Jumat malam, para pemrotes juga memblokir pusat pencetakan surat kabar L'Yonne Republicaine dan mencegah surat kabar La Voix du Nord didistribusikan.

Menteri Dalam Negeri, Christophe Castaner mengecam serangan tersebut di Twitter.

BACA JUGA: Massa Rompi Kuning Kembali Demonstrasi, Picu Kerusuhan di Sejumlah Wilayah Prancis

“Dalam demokrasi kita, pers merupakan hal yang bebas. Di Republik kita, kebebasan untuk memberi informasi tidak dapat dicabut. Serangan terhadap jurnalis termasuk serangan terhadap keduanya,” tulisnya.

Kementerian Dalam Negeri melaporkan lebih dari 84.000 orang turut ikut serta dalam demonstrasi hari Sabtu kesembilan yang menentang Presiden Emmanuel Macron sejak November. Jumlah tersebut mengalami kenaikan sebesar 50.000 dari jumlah demonstran pada Sabtu sebelumnya.

Namun, tingkat kekerasan dilaporkan menurun, meskipun masih ada ratusan penangkapan dan bentrokan dengan polisi di Paris dan kota-kota lainnya.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini