nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

PSI Sayangkan Adanya Aksi Persekusi di GBI Philadelpia Medan

Achmad Fardiansyah , Jurnalis · Senin 14 Januari 2019 22:02 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 01 14 608 2004458 psi-sayangkan-adanya-aksi-persekusi-di-gbi-philadelpia-medan-Uex9YquFMh.jpg Foto Ilustrasi shutterstock

JAKARTA - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengecam aksi persekusi terhadap Jamaat Gereja Bethel Indonesia (GBI) Philadelpia, saat ibadah pada Minggu 13 Januari 2019 di Labuan, Medan, Sumatera Utara.

Juru Bicara PSI, Dara Nasution mengatakan aksi tersebut telah merusak sendi-sendi samangat kebhinekaan, sehingga jika hal ini terus dibiarkan akan merusak rasa persaudaraan dan persatuan.

“Saya sangat mengecam adanya persekusi terhadap Jamaat GBI Philadelpia di Labuhan Medan. Tentu kita menginginkan semua dapat hidup rukun berdampingan dan menghargai ibadah saudara-saudara kita meski berbeda agama dengan kita,” kata Dara kepada Okezone, Senin (14/1/2019).

Diungkapkan Dara, persekusi yang dilakukan sejumlah orang dilatarbelakangi bahwa ada dugaan sebuah rumah yang dialih fungsikan menjadi sebuah rumah ibadah, akan tetapi cara-cara seperti itu tidak mencerminkan kepribadian bangsa Indonesia yang selalu menjunjungi tinggi musyawarah.

 DD

“Saya paham, aksi protes warga tersebut diduga karena rumah ibadah itu belum memiliki izin, tapi kita harus ingat, bahwa negara ini melindungi hak warga negaranya untuk beribadah. Ini sudah dijamin di Konstitusi kita, UUD 1945 Pasal 29 Ayat (2). Tidak perlu ada pengggerudukan dan tidak perlu diteriaki,” ucap Dara yang juga, caleg DPR RI dari Sumut III.

Sebagai partai yang memiliki semangat anti-intoleransi, PSI ingin mengingatkan kepada masyrakat bahwa kerukunan dalam keberagaman itu sangat penting untuk menjaga kesatuan Indonesia. Bagi Dara, perselisihan dalam keberagaman adalah hal biasa yang dapat diselesaikan dengan musyawarah.

“Indonesia itu beragam, selama ini kita hidup rukun dalam lingkungan lintas etnis dan agama. Setiap perselisihan bisa diselesaikan dengan prinsip musyawarah dan mufakat seperti yang dituangkan dalam Pancasila,” tegasnya

Sebagai anak kelahiran Kota Pematangsiantar, Dara kecewa akan peristiwa ini karena bagi Dara semangat toleransi selama ini sudah menjadi budaya Sumatera Utara.

"Masyarakat Sumut selama ini dikenal toleran dan hidup berdampingan dengan rukun. Pematangsiantar, misalnya, jadi kota paling toleran beberapa tahun terakhir. Jangan sampai peristiwa ini merobek toleransi yang sudah kita jaga boertahun-tahun,” tutupnya.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini