Jelang Pemilu 2019, Presiden Jokowi Dapat Serangan Hoax Paling Banyak

Sarah Hutagaol, Okezone · Selasa 15 Januari 2019 15:13 WIB
https: img.okezone.com content 2019 01 15 605 2004758 jelang-pemilu-2019-menkominfo-presiden-jokowi-dapat-serangan-hoax-paling-banyak-iUsn6j1MN7.jpeg Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo, Rosarita Niken (foto: Sarah/Okezone)

JAKARTA - Jelang Pemilu 2019, Dirjen Informasi dan Komunikasi Publik Kominfo, Rosarita Niken Widiastuti menyebutkan pemberitaan bohong atau hoax semakin banyak terjadi. Sasaran utamanya yang banyak diserang berita hoax itu ialah pemerintah.

Dari komponen pemerintah, Niken Widiastuti menungkapkan bahwa Presiden Joko Widodo lah yang menerima banyak serangan berita hoax di media sosial. Selain itu, terdapat pula menteri, pasangan capres-cawapres dan penyelenggara pemilu.

“Jadi mengenai hoax, setelah kita teliti ada banyak hoax itu yang menyerang yang berkaitan dengan politik adalah pemerintah. Pemerintah itu paling banyak ke presiden,” ujar Niken Widiastuti saat ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, Selasa (15/1/2019).

 (Baca juga: Jokowi dan Prabowo Sama-Sama Perjuangkan Trisakti Bung Karno)

dd

“Kemudian penghinaan yang cukup banyak di media sosial, kemudian kepada menteri, pasangan calon siapapun dan yang terakhir kepada penyelenggara pemilu. Tetapi banyak juga hoaks yang kesehatan. Kemudian artis dan lain-lain,” paparnya.

Tak hanya komponen pemerintahan, beberapa partai politik juga kerap mendapat serangan hoaks. Niken Widiastuti pun menyebutkan terdapat 62 hoax yang berkaitan dengan politik.

“Parpol juga atau parlemen juga menjadi sasaran hoax. Jadi ada 62 hoax yang berkaitan dengan politik. Sasarannya lebih banyak hoax menyasar kepada banyak pihak, seperti yang saya sampaikan tadi,” ucap Niken Widiastuti.

 (Baca juga: KSP: Hoaks Jadi Tantangan Pemilu 2019)

d

Melihat banyaknya serangan hoax yang terjadi pada pemilu 2019, Niken Widiastuti sangat menyayangkan. Ia merasa kalau pesta demokrasi ini harus dijalankan dengan gembira dan senang, bukan justru sebaliknya.

“Jadi menjelang pesta demokrasi itu mestinya konotasi pesta kita bahagia senang, gembira. Tetapi kondisi yang terjadi saat ini justru dengan adanya pesta demokrasi banyak informasi negatif, ujaran kebencian, hoaks, fitnah, provokasi menghasut lain dan sebagainya,” tutupnya. (wal)

(amr)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini