nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pelaku Pengeboman Gereja di Filipina Diyakini "Tiru" Aksi di Surabaya

Agregasi BBC Indonesia, Jurnalis · Selasa 05 Februari 2019 10:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 02 05 18 2013888 pelaku-pengeboman-gereja-di-filipina-diyakini-tiru-aksi-di-surabaya-9RHED2mj4k.jpg Para pelayat mengiringi mobil jenazah korban bom gereja Katolik di Jolo, Sulu. (Nickee Butlangan/AFP/Getty Images)

PENGAMAT terorisme meyakini pelaku serangan bom bunuh diri di satu gereja Katolik di Jolo, Filipina Selatan, meniru aksi serupa di Surabaya, Jawa Timur.

"Pasangan yang melakukan serangan bom bunuh diri ingin mengajarkan kepada orang-orang di Mindanao, bahwa melakukan serangan harus dengan cara paling ekstrem yaitu bom bunuh diri keluarga," ujar Al Chaidar, pengamat terorisme Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, kepada Quin Pasaribu, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Pesan yang ingin disampaikan dari kejadian itu, kata Al Chaidar, adalah "mengajarkan" kepada anggota kelompok Abu Sayyaf tentang cara melakukan aksi teror yang paling radikal dan menjadikannya sebagai strategi utama.

Sebab selama ini kelompok Abu Sayyaf dianggap setengah hati dalam "berjuang" lantaran menerapkan metode lama; hit and run (serang dan lari).

Tahun lalu, Surabaya diguncang bom bunuh diri yang dilakukan pasangan suami dan istri Dita Oepriarto-Puji Kuswati yang juga mengajak anak-anaknya meledakkan diri di tiga gereja.

"Sementara di Filipina belum pernah ada aksi seekstrem ini. Jadi, ketika mereka mendengar kejadian bom keluarga di Surabaya, orang-orang Mindanao belum berpikir bahwa mereka bisa melakukan itu," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Dalam Negeri Filipina, Eduardo Ano, mengatakan dua pelaku bom bunuh diri itu diduga berasal dari Indonesia yang dibimbing Abu Sayyaf. Kelompok ini telah disahihkan ISIS sebagai perwakilan komando mereka di wilayah Asia Tenggara pada 2014.

Kepala Kepolisian Provinsi Sulu, Pablo Labra, mengatakan beberapa saksi mata menunjuk pria dan perempuan yang mereka percaya berada di balik pengeboman itu.

Tentara Filipina memeriksa lokasi ledakan di gereja Katolik pasca terjadinya dua ledakan besar. (Nickee Butlangan/AFP/Getty Images)

Mengutip para saksi mata, Labra menyebut saat terjadi pengeboman, pelaku perempuan duduk di dalam gereja, sementara satu pelaku laki-laki lainnya suaminya keluar.

Perempuan -yang digambarkan memakai jaket berwarna keabuan- membawa ransel.

Hingga Jumat (1/2) lalu, Labra mengatakan dua pasang kaki yang penuh luka, tak ada yang mengklaim dan ini menunjukkan kemungkinan milik pengebom bunuh diri.

Menurut Al Chaidar, jumlah anggota Abu Sayyaf dari Indonesia semakin banyak dan mayoritas berasal dari Jawa Timur. Dalam hitungannya empat tahun lalu, ada 200-an kombatan dari Indonesia yang bergabung.

"Tapi, dulu itu hitungannya tanpa membawa keluarga. Sekarang harus dihitung juga istri mereka, karena pasti diajak juga. Bayangkan kalau mereka meramaikan teror di Filipina dengan cara itu, apalagi ditambah mereka melebarkan serangan ke utara, itu akan lebih rumit lagi," katanya.

'Kemenangan besar'

Sementara itu, ledakan yang menyebabkan setidaknya 23 orang meninggal dan 100 lainnya luka-luka ini menurut bekas kombatan Front Pembebasan Islam Moro (MILF) Filipina, Ali Fauzi, merupakan "kemenangan besar" bagi kelompok Abu Sayyaf.

Karena itulah, kuat diduga strategi serupa akan terus dilakukan.

"(Pengeboman) kemarin itu dianggap keberhasilan dengan 20 orang lebih meninggal dan 100 luka-luka. Itu sangat-sangat berhasil bagi mereka," ujar Ali Fauzi kepada BBC News Indonesia saat dihubungi pada Senin (4/2/2019).

Pria yang pernah mendirikan kamp pelatihan militer MILF di Mindanao, Filipina, bersama Abdul Matin dan Umar Patek pada 2002 ini juga mengatakan, kuat diduga aksi teror yang terjadi di gereja Katolik di Pulau Jolo, mengadopsi gaya Dita Oepriarto dari Surabaya.

Tujuannya memengaruhi orang lokal Filipina untuk mau melakukan hal serupa.

"Kalau kemudian aksi ledakan baru-baru ini betul dilakukan oleh sepasang suami-istri, berarti membuka era baru dalam aksi-aksi teror di Mindanao," katanya.

Milisi MILF dan polisi setempat memeriksa bahan peledak yang didapat saat pertempuran 22 Agustus 2017. (Jes Aznar/Getty Images)

Dalam pengamatannya, banyak warga Indonesia yang memilih bergerilya ke Mindanao, lantaran kian sulitnya mereka bergerak di dalam negeri.

Detasemen Khusus 88 Antiteror gencar memantau dan menangkap para simpatisan. Sementara pilihan ke Suriah atau Irak, mustahil dilakukan karena jalurnya kian terkunci.

Berbeda dengan Mindanao yang jalur tikusnya masih terbuka dan pasar gelap persenjataan di Filipina bisa menyediakan bahan-bahan peledak termasuk senjata cukup banyak dan mudah didapat.

"Jadi jalan yang dekat dan mudah yaitu daratan di Filipina selatan. Sebab belajar menembak, membom, adalah bagian dari kewajiban. Ada lahan yang bisa digunakan untuk berlatih ya Mindanao."

Hal serupa juga disampaikan pengamat terorisme, Al Chaidar. Kata dia, di Filipina kegiatan semacam pengajian cenderung lebih bebas dan terbuka ketimbang di Indonesia.

"Kalau di Indonesia kan pengajian-pengajian seperti itu dipantau terus," ungkapnya.

Filipina diminta tak buru-buru sebut pelaku WNI

Aparat keamanan Filipina mengamankan lokasi ledakan bom bunuh diri di Gereja Katolik. (Nickee Butlangan/AFP/Getty Images)


Di tempat terpisah, Menteri Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto, menyebut pemerintah belum bisa memastikan terduga pelaku bom bunuh diri di gereja Katolik di Pulau Jolo merupakan sepasang suami istri warga negara Indonesia.

Ia meminta Filipina tidak terburu-buru menyebut pelakunya sebagai WNI.

"Saat ini kan ada cukup ramai tuduhan dari pihak Filipina, terutama Menteri Dalam Negeri bahwa ada keterlibatan WNI dalam aksi teror di Filipina. Di sini saya menyampaikan bahwa itu berita sepihak," kata Wiranto di kantornya di Jakarta, Senin (4/2/2019).

Wiranto juga menjelaskan koordinasi antarkedua negara terkait kasus tersebut masih berlangsung. Akan tetapi untuk memastikan identitas pelaku menjadi kewenangan Filipina.

(Baca Juga : Pasangan Suami Istri Indonesia Disebut sebagai Pelaku Serangan Bom Gereja di Jolo Filipina)

"Itu masih otoritas Filipina, kepolisian, pihak yang bersangkutan dalam masalah terorisme," sambungnya sembari menyebut Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kementerian Luar Negeri masih melakukan pengecekan serta terus berkoordinasi dengan otoritas terkait.

(Baca Juga : 2 WNI Dituduh Ngebom Gereja di Filipina, Wiranto: Berita Sepihak!)

Direktur Deradikalisasi Badan Penanggulangan Terorisme (BNPT), Irfan Idris, tak menampik masih adanya warga Indonesia yang bergabung dengan kelompok terorisme di Mindanao, Filipina.

Meski upaya pencegahan seperti pemberian pemahaman agar tak berbaur dengan kelompok radikal sudah dijalankan, tapi hal itu tidak mudah.

"Kalau kami selalu beri pemahaman supaya jangan mudah berbaur dengan mereka meskipun itu lewat online, ajakan-ajaknnya," ujar Irfan.

(Baca Juga : Filipina Belum Simpulkan Pelaku Bom Gereja di Pulau Jolo Warga Indonesia)

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini