nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Parkir Liar di Ciputat Menjamur, Lalu Lintas Makin Semerawut

Hambali, Jurnalis · Sabtu 09 Februari 2019 15:02 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 02 08 338 2015563 parkir-liar-di-ciputat-menjamur-lalu-lintas-makin-semerawut-ECqetrpLCf.jpg

TANGERANG SELATAN - Keberadaan parkir liar di wilayah perkotaan memang tak dapat dihindari. Sebut saja di Kota Tangerang Selatan (Tangsel), wilayah dengan jumlah 7 Kecamatan itu memiliki banyak titik parkir baik resmi ataupun ilegal atau yang dikenal parkir liar.

Tercatat, data terakhir dari Dinas Perhubungan Kota Tangsel diperoleh informasi bahwa ada 146 titik parkir di tepi jalan (On Street). Namun yang sudah terkelola resmi hanya 27 titik.

Sedangkan dari total 142 titik parkir tempat khusus diluar badan jalan (Off Street), baru 4 titik yang telah mengantongi ijin perparkiran. Jumlah titik parkir liar rata-rata berada di lokasi perbelanjaan, pasar, objek wisata, serta lokasi lainnya.

Salah satu titik parkir liar yang paling mencolok adalah di sisi jalan Pasar Ciputat, Jalan Aria Putra, Ciputat, Tangsel. Di sana, keberadaan parkir liar itu nyaris memakan separuh badan jalan yang menuju ke arah Lebak Bulus, Jakarta.

Pada jam-jam sibuk keberangkatan dan pulang kerja, parkir liar di sisi Jalan Pasar Ciputat itu menyebabkan laju kendaraan tersendat. Hal tersebut disebabkan ruas jalan yang hanya bisa dilalui satu lajurnya saja oleh pengendara.

"Kalau pagi dan sore, itu pasti macet disini. Karena jumlah kendaraan yang melintas banyak, sedangkan badan jalan yang bisa dilalui tinggal separuh karena sebagiannya terpakai buat parkir motor. Jadi arus lalu lintasnya tersendat," ungkap Itba Mahyana (33), pengendara motor yang sekaligus warga sekitar saat ditemui Okezone.

Dikatakan Itba, parkir-parkir liar di lokasi itu sulit untuk ditertibkan. Selain dikelola oleh oknum preman setempat, namun keberadaannya pun dianggap lebih praktis bagi pengunjung pasar dibanding memarkirkan kendaraannya di lokasi parkir resmi.

"Ya mungkin kalau parkir di sisi jalan lebih cepat keluar-masuknya. Karena kalau ke lokasi parkir resmi kan di dalam pasar, prosesnya pakai karcis dulu segala macem, jadi ribet," imbuhnya.

Dari pantauan di lokasi, rata-rata pengendara yang memarkir sepeda motornya di lokasi parkir liar itu adalah mereka yang akan berbelanja ke Pasar Ciputat. Setiap bidang parkir, dijaga oleh seorang juru parkir (Jukir) berperawakan sangar.

"Ya murah aja parkir disini, cuma Rp2 ribu. Kalau parkir di dalam lama, malah jauh nanti ke tempat belanjanya," ungkap Mamah Diana (30), pengunjung Pasar Ciputat.

Saat mencoba berbincang dengan juru parkir di lokasi, diketahui bahwa lapak parkir itu bukan dikelola secara pribadi. Melainkan dikuasai oleh kelompok tertentu. Nantinya, para Jukir akan membagi hasil, untuk diri sendiri dan setoran kepada kelompoknya.

"Kan kita bagi-bagi, bukan buat kita sendiri. Adalah jatah kita juga. Namanya hidup di jalanan begini, ya kerjaan ini aja kita ambil. Yang penting sama-sama enak aja," ucap salah satu Jukir yang menolak disebut namanya.

Mulanya beberapa Jukir bersikap terbuka saat diajak berbincang mengenai keberadaan parkir di lokasi itu. Namun entah mengapa, tiba-tiba ketiga Jukir tersebut tak mau lagi melanjutkan perbincangan. Bahkan mereka sempat meminta agar tak mengambil gambar di area parkirnya.

"Maaf ya bang, jangan foto-foto dulu. Kita sama-sama cari rejeki. Kan kita juga bantu masyarakat disini biar motornya aman, bukan cuma mintain (uang) parkirnya doang," ujar Jukir tersebut.

Parkir liar jelas tak memiliki perijinan resmi. Sehingga membuat rangkaian pengelolaannya tak sesuai dengan aturan yang ada. Dari mulai soal tarif, penyesuaian lokasi, hingga pada penggunaan fasilitas yang telah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda), Peraturan Wali Kota (Perwal) dan Keputusan Wali Kota (Kepwal).

"Jadi setelah mendapatkan ijin (parkir) itu, nanti kan harus juga menyesuaikan berapa besaran tarif parkirnya, itu semua diatur dalam Kepwal," ungkap Aplahunnajat, Sekretaris Dishub Kota Tangsel dikonfirmasi terpisah.

Menurut dia, untuk lokasi titik parkir On Street maka pengelolaannya berdasarkan penunjukan langsung oleh SK Dishub. Sedangkan untuk lokasi parkir Off Street, pengelola diharuskan lebih dulu mendapat izin dari Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).

"Ini butuh kerjasama semua pihak, karena mengatasi parkir liar itu kan bukan cuma melarang saja, tapi bagaimana bisa memberikan solusi, jalan keluarnya. Ini tugas bersama, termasuk dengan mengedukasi masyarakat, karena kalau sudah ada parkir resmi, ya sebaiknya parkir di sana, sehingga tak mengganggu masyarakat lain, pengendara dan sebagainya," tukasnya.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini