nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jepang Tuntut Permintaan Maaf Korsel Atas Komentar Terkait Kaisar Akihito

Indi Safitri , Jurnalis · Selasa 12 Februari 2019 10:57 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 12 18 2016724 jepang-tuntut-permintaan-maaf-korsel-atas-komentar-terkait-kaisar-akihito-Vg0dLCvX85.jpg Pimpinan Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga. (Foto: Reuters)

TOKYO – Jepang menuntut permintaan maaf atas komentar tidak pantas dari seorang anggota parlemen Korea Selatan yang menuntut Kaisar Jepang harus meminta maaf secara pribadi kepada para wanita yang dijadikan budak seks di rumah bordil Jepang pada masa perang.

Pada Selasa, 12 Februari, Sekretaris Kabinet Jepang, Yoshihide Suga mengatakan dalam konferensi pers bahwa Ketua Majelis Nasional Korea Selatan, Moon Hee-sang harus menarik kembali pernyataannya.

BACA JUGA: Warga Korsel Tolak Kesepakatan Jepang Soal Jugun Ianfu

Diwartakan Straits Times, Selasa (12/2/2019), dalam wawancara dengan Bloomberg pada Kamis pekan lalu, Moon mengatakan bahwa Kaisar Jepang, Akihito sebagai “putra pelakunya kejahatan perang”, harus menyampaikan permintaan maaf sebelum pengunduran dirinya yang direncanakan pada Mei mendatang.

Komentar itu disampaikan Moon menjawab pertanyaan mengenai bagaimana kedua negara sekutu Amerika Serikat (AS) itu dapat menyelesaikan pertikaian diplomatik terkait kependudukan Jepang atas Semenanjung Korea pada 1910-1945.

“Hanya perlu satu kata dari perdana menteri, yang mewakili Jepang. Saya berharap kaisar akan melakukannya karena dia akan segera mundur,” kata Moon, pejabat terpilih nomor dua Korea Selatan dan mantan utusan kepresidenan ke Jepang. “Bukankah dia putra pelaku kejahatan perang?”

“Jadi, jika orang seperti itu memegang tangan para orang-orang tua dan mengatakan dia benar-benar minta maaf, maka kata itu akan langsung bisa menyelesaikan masalah sekali untuk seterusnya,” tambahnya.

Komentar Moon memperlihatkan kesenjangan hubungan yang semakin lebar antara Jepang dengan Korea Selatan. Hubungan kedua negara bertetangga itu mencapai titik terendahnya dalam lebih dari lima dekade terakhir.

Pernyataan Moon juga dianggap sebagai tantangan langsung yang ditujukan kepada kaisar, seorang tokoh yang dihormati, dan dapat berisiko untuk membuat marah rakyat Jepang.

Kaisar Akihito pernah menyampaikan “penyesalan terdalam” atas atas penjajahan Jepang di semenanjung Korea pada 1990, namun banyak warga Korea berpendapat bahwa negara itu gagal menebus kesalahan mereka, terutama dalam isu “wanita penghibur” di rumah bordil militer.

BACA JUGA: Korsel Umumkan Peringatan Pertama "Hari Wanita Penghibur"

Mantan Presiden Korea Selatan, Lee Myung-bak membuat marah Jepang pada 2012 ketika ia menuntut permintaan maaf penuh sebagai syarat akan kunjungan kekaisaran. Perselisihan muncul kembali setelah Presiden Moon Jae-in terpilih pada 2017 dan melakukan perubahan untuk membatalkan perjanjian wanita penghibur yang sebelumnya telah dicapai pendahulunya dengan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe.

Setelah kematian seorang mantan wanita penghibur yang kemudian menjadi aktivis, Kim Bok-dong bulan lalu, Moon bersumpah untuk melakukan segala daya untuk “meluruskan sejarah” bagi 23 korban “wanita penghibur” yang selamat.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini