JAKARTA - Beragam komentar bermunculan di publik usai debat kedua Pilpres yang mempertemukan kandidat calon presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Banyak yang kecewa melihat sikap Prabowo yang tidak agresif saat ‘berduel’ di panggung debat, bahkan cenderung kalem.
Malahan, Prabowo saat itu ‘disentil’ Jokowi soal kepemilikan ratusan ribu ribu hektare lahan di Aceh dan Kalimantan Timur. Prabowo kemudian dalam closing statement-nya mengakui hal tersebut, sembari menjelaskan bahwa tanah tersebut adalah milik negara yang dikelolanya.
Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily menyatakan, pernyataan Jokowi soal lahan yang dikuasai Prabowo, bukan serangan terhadap pribadi mantan Danjen Kopassus.

"Justru sebaliknya, pengakuan Pak Prabowo sebagaimana yang dikatakannya dalam closing statement, mengakui bahwa lahan tersebut memang dikuasai Prabowo, dan itu bukan menyerang pribadi Pak Prabowo," kata Ace di Jakarta.
Menurut Ace, tidak perlu ada yang tersinggung soal ini. Pasalnya tidak ada yang dilanggar secara hukum dari penguasaan HGU itu. Jokowi juga tidak menyatakan soal adanya pelanggaran hukum tersebut dan hanya menyampaikan fakta.
(Baca juga: BPN Sesali Sikap Jokowi Ungkit Kepemilikan Lahan Prabowo di Debat Pilpres)
Ia menjelaskan apa yang disampaikan Jokowi sesunggahnya dalam konteks redistribusi aset. "Sekali lagi bicara soal redistribusi aset dalam konteks reforma agraria. Pak Jokowi mengedapankan program perhutanan sosial yang justru dinikmati rakyat untuk mengelolanya agar lebih sejahtera," kata Ace.

Terkait Prabowo yang kurang garang saat debat, ahli gestur dan psikologi politik Dewi Haroen menilai sebagai rebranding oleh Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi.
“Saya melihat ada rebranding dari Prabowo. Dari debat pertama sampai debat kedua sudah terlihat dia mau memperlihatkan the new Prabowo-nya, jadi yang selama ini dibilang Prabowo itu keras, tidak bisa mendengar orang lain, otoriter, semua itu jadi terbantahkan,” kata Dewi.
Dewi menduga, Prabowo tidak ingin situasi politik bangsa ini yang kian memanas akan semakin panas. “Sehingga dia tampak lebih bijak saat debat kedua,” ujarnya.
Perubahan itu tentu saja membuat banyak pendukungnya kecewa. “Namun debat kedua itu terasa terbalik, justru petahana menyerang penantang,” tutur Dewi Haroen.
Menurut Dewi, Prabowo juga banyak menyerang, hanya caranya berbeda. “Meskipun menyerang, namun semuanya dilakukan dengan senyuman, bahkan Prabowo tidak mau memperpanjang debat jika ternyata berbeda pandangan,” ujarnya.
(Qur'anul Hidayat)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.