Mendagri Minta Kader PKK Sosialisasikan agar Warga Jangan Golput

Fahreza Rizky, Jurnalis · Selasa 26 Februari 2019 20:56 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 02 26 605 2023215 mendagri-minta-kader-pkk-sosialisasikan-agar-warga-jangan-golput-LaNrUQz4VW.jpg Mendagri, Tjahjo Kumolo (foto: istimewa)

JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo mengimbau kader-kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) untuk ikut mensosialisasikan dan menggerakkan masyarakat pemilih untuk datang ke Tempat Pemungutan Suara (TPS) pada 17 April 2019 mendatang.

“Sosialisasikan kepada masyarakat jangan Golput, ajak masyarakat untuk hadir di TPS menggunakan hak pilihnya,” kata Mendagri dalam keterangannya, Selasa (26/2/2019).

Mendagri menambahkan, masyarakat pemilih perlu didorong untuk datang ke TPS menggunakan hak pilihnya karena tingkat partisipasi politik masyarakat akan menentukan suksesnya sebuah pesta demokrasi.

“Tingkat partisipasi politik masyarakat akan menentukan suksesnya sebuah demokrasi yang sedang dicanangkan oleh bangsa dan negara Indonesia ini untuk mewujudkan sistem pemerintahan presidensial yang harus semakin efektif dan semakin efisien, mempercepat reformasi birokrasi dalam upaya untuk memperkuat otonomi daerah dan mempercepat pemerataan pembangunan dan kesejahteraan rakyat,” kata Tjahjo.

SD

Mendagri mengakui tidak mudah bagi pemilih untuk menggunakan hak suaranya, apalagi dengan sistem Pemilu serentak ada lima lembar surat suara yang harus dicoblos.

Tjahjo mengatakan, satu pemilih sejak masuk bilik TPS hingga keluar mencelupkan tangannya di tinta membutuhkan waktu total sekitar 11 menit.

“Kalau ibu-ibu atau bapak-bapak yang umurnya di atas 50 tahun tentu ini akan butuh waktu lebih dari 11 menit. Kalau memilih Capres dan Cawapres gampang, tapi memilih anggota DPR dan DPRD memerlukan waktu karena fotonya tidak ada, ada namanya saja,” kata Mendagri.

Dalam kesempatan itu, Mendagri juga mengimbau kepada kader PKK untuk mencermati berita-berita yang ada di media massa termasuk media sosial terkait masalah kampanye Pemilu. Mendagri mengingatkan, jangan sampai ikut menyebarluaskan berita yang tidak jelas kebenarannya.

“Mohon Bapak dan Ibu sekalian untuk cermat dalam menerima berita medsos, jangan langsung disebar. Kalau disebar tentu ada risiko hukumnya ,dicermati dengan benar karena apapun racun demokrasi itu masih mewarnai tahap konsolidasi demokrasi menuju Pemilu serentak yang akan datang. Racun demokrasi adalah politik uang, kampanye yang berujar kebencian, kampanye yang berujar fitnah, kampanye yang bersifat SARA. inilah racun demokrasi kita yang harus kita lawan,” kata Tjahjo.

Mendagri menambahkan, kita ingin membangun sebuah sistem demokrasi melalui Pemilu di mana setiap warga negara mempunyai hak konstitusional untuk menentukan pilihannya secara demokratis, sesuai pilihan hati nuraninya.

“Karena itu, harus dicegah masuknya racun-racun dan virus-virus demokrasi yang bisa merusak persatuan dan kesatuan bangsa kita. Jangan sampai sesama tetangga, sesama keluarga, sesama teman timbul konflik, beda pilihan boleh tapi jangan sampai beda pilihan itu akan menganggu kegotongroyongan rasa persatuan dan kesatuan di antara kita,” ujarnya Mendagri.

SD

Dalam kesempatan itu, Mendagri juga mengingatkan kepada pengurus PKK yang menjadi caleg harus hati-hati saat berkampanye dan mengikuti aturan yang ada di KPU. Jangan sampai berkampanye sebagai caleg atau kampanye capres menggunakan atribut PKK.

“Hati-hati harus dipisahkan saat melakukan aktivitas politik dan tugas-tugas sosial melalui organisasi tim penggerak PKK,” pungkasnya.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini