Sri menambahkan, masa panen raya ini mampu menurunkan harga jagung kadar air 15 persen - 17 persen yang semula Rp5.500 turun menjadi Rp 4.200- Rp4.600/kg. Demikian juga di Semarang yang mencapai level Rp 4.400 dari harga semula Rp. 5.600-Rp.
"Jadi kondisi panen raya jagung di mana-mana ini telah direspons dengan baik oleh perusahaan pakan ternak (feedmill) yang sebagian besar melaporkan adanya penurunan harga pakan, baik pakan broiler maupun layer. Berdasarkan laporan dari perwakilan masing-masing feedmill bahwa telah terjadi penurunan per kilogram pakan broiler sebesar Rp.100 sampai Rp.300, sedangkan pakan layer turun antara Rp.150 sampai Rp.300," jelasnya.
Di tempat terpisah, Ketua Gabungan Perusahaan Makaban Ternak (GPMT) Desianto berharap adanya kontinuitas pasokan jagung, terutama pada saat musim kemarau tiba. Hal itu perlu dilakukan untuk menjamin bahwa tidak ada penurunan pasokan jagung yang berpengaruh terhadap harga pakan.
"Stabilitas harga jagung ini diharapkan akan menciptakan stabilitas harga produk komoditas peternakan, yaitu daging dan telur, sehingga daya beli konsumen terjaga, dan pada akhirnya mampu menekan angka inflasi," pungkasnya.
(Risna Nur Rahayu)
News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.