Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Marak Hoaks Cerminan Demokrasi di Indonesia Belum Mapan

Puteranegara Batubara , Jurnalis-Sabtu, 02 Maret 2019 |22:21 WIB
Marak Hoaks Cerminan Demokrasi di Indonesia Belum Mapan
Diskusi interaktif "Merangkai Kebersamaan Demi Terjaganya NKRI" (Foto: Ist)
A
A
A

JAKARTA - Demokrasi di Indonesia masih belum mapan. Hal tersebut terlihat dari maraknya hoaks atau berita bohong dan "panasnya" kondisi politik Tanah Air belakangan ini menjelang Pilpres 2019.

Menurut Ketua Umum Perkumpulan Gerakan Kebangsaan (PGK) Bursah Zarnubi, Indonesia sebagai bangsa seolah terpecah, karena sistem yang dibangun partai politik secara kelembagaan tidak tertata dengan untuk membangun sistem demokrasi.

"Demokrasi kita belum mapan. Padahal, partai politik sebagai salah satu pilar penting dalam sistem demokrasi. Penataan kelembagaan partai politik kita sejak berdiri belum mengadopsi nilai-nilai modern yang rasional dalam memecahkan persoalan bangsa kita," ujarnya dalam diskusi interaktif bertajuk "Merangkai Kebersamaan Demi Terjaganya Keutuhan NKRI" di Jakarta, Sabtu (2/3/2019).

(Baca Juga: Wakapolri Ajak Seluruh Elemen Tangkal Hoaks demi Pemilu Damai)

Bursah menambahkan, komunikasi politik buruk, partai politik tidak mengakar, dan rekrutmen partai politik asal-asalan, itulah buntut dari terbelahnya bangsa. Kemudian, sistem pemilu yang menerapkan ambang batas pun ikut ambil bagian, sehingga hanya dua pasangan capres-cawapres.

"Kalau ada tiga pasang (capres-cawapres) ada alternatif, situasi nasional kita tidak seperti sekarang ini. Sangat panas dan menenggangkan dinamikanya juga dipastikan akan berbeda," tuturnya.

Bursa menilai, seharusnya presidential threshold cukup 10 persen atau baiknya nol persen, sehingga dinamika politik bisa berjalan baik.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement