nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Awan Berlafaz Allah Terpampang di Langit Yogyakarta

Agregasi KR Jogja, Jurnalis · Senin 11 Maret 2019 17:06 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 11 510 2028508 awan-berlafaz-allah-terpampang-di-langit-yogyakarta-w9G7KFgybN.jpg Foto Istimewa

YOGYAKARTA - Gumpalan awan yang berbentuk lafal Allah menghiasi langit Yogyakarta, Senin (11/03/2019) pagi. Fenomena tersebut terlihat di langit utara Kota Yogyakarta sekira pukul 08.00 WIB. Gambaran alam tersebut membuat takjub dan sempat diabadikan oleh warga.

Heri (34) salah seorang warga yang sempat menyaksikan fenomena unik ini mengatakan, ia melihat lafal Allah tersebut saat berada di kawasan Jalan Bhayangkara Yogyakarta. Langit pagi tadi di kawasan tepat ia melihat tengah dalam kondisi cerah dan matahari terang menyinari.

“Saat itu tidak mendung sehingga langit dapat terlihat biru terang. Awan putih tersebut membentuk lafal Allah dan berada di sisi utara,” ungkap Heri Chris kepada KRJOGJA.com.

Kejadian alam tersebut menurutnya berlangsung sekitar 20 menit dan perlahan-lahan gambaran awan itu memudar. Setelah itu awan yang semula membentuk lafal Allah tersebut menjadi gumpalan awan dengan pola yang tak beraturan.

Sementara itu, Kepala Kelompok Data dan Informasi Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Djoko Budi yono mengatakan fenomena awan membentuk suatu gambaran merupakan hal yang wajar. Menurutnya terbentuknya pola awan sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor alam.

"Awan itu sangat dinamis akan ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi diantaranya kelembaban awan, gerak angin maupun kandungan air di dalamnya. Jadi awan bisa saja membentuk pola apa saja dan bisa saja masyarakat mengartikan bentuk tersebut sebagai gambaran tertentu,” ungkap Djoko Budiyono.

Ketinggian awan dari permukaan bumi juga menjadi penyebab terbentuknya karakter pola awan. Djoko Budiyono menyampaikan pada ketinggian kurang dari 2.000 meter bentuk awan akan tebal dan berlapis-palis, sementara pada ketinggian 2.000 hingga 6.000 meter karakter gambaran awan akan tipis seperti bulu, sedangkan pada ketinggian lebih dari 6.000 meter awan akan pecah-pecah dan berpencar.

Djoko Budiyono meminta masyarakat tak mengartikan bentuk awan sebagai suatu pertanda akan terjadinya peristiwa alam. Fenomen seperti itu menurutnya merupakan kejadian yang bisa terjadi kapan saja serta dalam bentuk apapun.

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini