nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

KPK Tetapkan Pejabat PT Wijaya Karya dan Bina Marga Tersangka Korupsi Jembatan

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Kamis 14 Maret 2019 18:48 WIB
https: img-o.okeinfo.net content 2019 03 14 337 2030072 kpk-tetapkan-pejabat-pt-wijaya-karya-dan-bina-marga-tersangka-korupsi-jembatan-Jt6c2XCCD0.jpg Konferensi pers KPK mengumumkan dua tersangka korupsi jembatan Bangkinang (Arie/Okezone)

JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan dua tersangka terkait kasus korupsi pengadaan dan pelaksanaan proyek pembangunan Waterfront City atau Jembatan Bangkinang di Kabupaten Kampar, Riau pada 2015-2016.

Kedua tersangka yakni, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Jembatan Waterfront Dinas Bina Marga dan Pengairan Kabupaten Kampar, Riau, Adnan (ADN) dan Manajer Wilayah II PT Wijaya Karya (Persero) atau Manajer Divisi Operasi I PT Wijaya Karya (Persero), I Ketut Suarbawa (IKS).

"KPK telah menyelesaikan penyelidikan dengan mengumpulkan informasi dan data hingga terpenuhinya bukti permulaan yang cukup. maka KPK meningkatkan perkara ini ke tingkat penyidikan," kata Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang dalam konferensi pers di Gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Kamis (14/3/2019).

Awalnya, Pemerintah Kabupaten Kampar mencanangkan beberapa proyek strategis di antaranya adalah pembangunan Jembatan Bangkinang atau yang kemudian disebut dengan Jembatan Waterfront City.

 

Kemudian, pada pertengahan 2013, Adnan diduga mengadakan pertemuan di Jakarta dengan I Ketut Suarbawa dan beberapa pihak lainnya. Dalam pertemuan itu, Adnan memberikan Informasi tentang desain jembatan jembatan Waterfron ke Ketut Suarbawa.

PT Wijaya Karya sendiri menjadi pemenang lelang dalam ruang lingkup pondasi pembangunan jembatan Waterfront. Selanjutnya, ditandatangani kontrak pembangunan Jembatan Waterfront City Tahun Anggaran 2013 senilai Rp15.198.470.500 dengan ruang lingkup pekerjaan pondasi jembatan dan masa pelaksanaan sampai 20 Desember 2014.

‎Setelah kontrak tersebut, Andan meminta pembuatan perhitungan konstruksi sementara pembangunan Jembatan Waterfront City Tahun Anggaran 2014 kepada konsultan, dan Ketut Suarbawa meminta kenaikan harga satuan untuk beberapa pekerjaan tersebut.

"KPK menduga kerjasama antara ADN dan IKS terkait penetapan harga perkiraan Sendiri ini terus berIanjut di tahun tahun berikutnya sampai pelaksanaan pembangunan Jembatan Watelfront City secara tahun jamak yang dibiayai APBD Tahun 2015, APBD Perubahan Tahun 2015 dan APBD Tahun 2016," kata Saut.

 

Atas perbuatan ini, Adnan diduga menerima uang kurang lebih sebesar Rp1 miliar atau 1% dari nilai nilai kontrak.‎ Didugan terjadi kolusi dan pengaturan tender yang melanggar hukum yang dilakukan oleh keduanya.

"Diduga dalam proyek ini telah terjadi kerugian keuangan negara setidak-tidaknya sekitar Rp39,2 Milyar dari nilai proyek pembangunan jembatan waterfront city secara tahun jamak di Tahun Anggaran 2015 dan 2016 dengan total Rp117,68 Milyar," sambungnya.‎

Atas perbuatannya, kedua tersangka tersebut disangkakan melanggar pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

(sal)

GRATIS! Uji kesiapanmu menghadapi SBMPTN 2019 di Tryout SBMPTN Online 2019. Daftar dan login DI SINI

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini