Ketua Tim Percepatan Pengembangan Wisata Sejarah, Religi, Tradisi dan Seni Budaya Tendi Nuralam mengaku akan memaanfaatkan beberapa kesamaan antara Indonesia dengan Malaysia. Baik soal budaya maupun kuliner. Sedapat mungkin ia akan menyajikan hal-hal yang disukai wisatawan Malaysia demi menarik minat mereka untuk berkunjung.
“Saya rasa tidak hanya sebatas destinasi wisata yang kita tampilkan. Tetapi harus ada atraksi lain yang ditawarkan, misalnya seni budaya. Kita akan gali itu dan mengemasnya sedemikian rupa, sehingga layak untuk dijual. Termasuk kuliner, kita harus tahu apa yang disukai wisatawan,” ucapnya.
Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kabupaten Sanggau F Meron. Ia mengaku sangat senang dan berterimakasih atas kehadiran Tim Kemenpar dalam rangka mengembangkan pariwisata di daerahnya. Ia pun berjanji akan terus menggali hal-hal unik dan menarik untuk dikelola dan ditawarkan kepada wisatawan.
“Kami sudah mulai mengembangkan berbagai destinasi wisata yang dikelola langsung oleh masyarakat melalui kelompok sadar wisata (Pokdarwis). Beberapa destinasi tersebut antara lain Danau Laet, Danau Pagong Rumpang, Batu Posok Penyeladi dan Air Terjun Pana,” ungkapnya.
Kabid Pemasaran Area III Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional II Kemenpar Sapto Haryono menambahkan, untuk mematangkan gagasan di atas, Kemenpar menggelar Workshop Weekend Market Crossborder di Hotel Golden Tulip, Pontianak, Kalimantan Barat, Kamis (14/3). Selain Kemenpar, Workshop ini juga melibatkan pemerintah daerah di Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara.
Agenda Workshop Weekend Market Crossborder sangat padat. Selepas sambutan dari Adella Raung, kegiatan langsung dirangkai dengan pemaparan mengenai potensi pariwisata dan strategi promosi, baik di Kalimantan Barat maupun Kalimantan Utara.