nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pelabuhan Belawan: Urat Nadi Ekonomi Sumatera

Adi Rianghepat, Jurnalis · Sabtu 16 Maret 2019 13:59 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 03 16 608 2030817 pelabuhan-belawan-urat-nadi-ekonomi-sumatera-JRQEzrPumi.jpg Foto: Pelindo

KUPANG - Pelabuhan Belawan kini, dulunya bercikal bakal dari Labuhan Deli. Pelabuhan itu di zaman kerajaan, menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Deli yang kesohor di kawasan Sumatera Timur. Bandar Labuhan Deli terletak persi di tepi Sungai Deli.

Frasa 'Bandar' sendiri merupakan sebutan dari masyarakat suku Melayu Deli yang artinya labuhan atau pelabuhan. Karena masa itu yang berkuasa adalah pemerintah Kerajaan Deli, maka pelabuhan tersebut dinamai Labuhan Deli atau Bandar Deli.

Pelabuhan Belawan dibangun pada 1890 untuk memindahkan hasil bumi petani berupa tembakau dari kereta api ke kapal laut. Dalam perkembangannya pada 1907, Pelabuhan Belawan diperluas dengan dibukanya bagian baru untuk para pedagang pribumi dan Cina.

Sementara pelabuhan yang lama digunakan untuk pelayaran asing. Kargo diperluas di awal abad ke 20 ketika perkebunan di Sumatera Utara mulai mengekspor kelapa sawit dan karet. Selama tahun 1920, tambatan baru dibangun untuk Pelabuhan Belawan.

Dalam perkembangannya pada 1938, Pelabuhan Belawan menjadi salah satu pelabuhan terbesar di Hindia Belanda dihitung dari nilai kargo barang. Namun demikian, setelah kemerdekaan Indonesia, volume kargo turun signifikan.

Selain menjadi salah satu pusat niaga, Bandar Labuhan Deli kemudian dijadikan sebagai salah satu sentra penelitian para pemuka dan peneliti. Sebut saja, John Anderson seorang utusan Gubernur Penang WE Philips yang datang ke Labuhan Deli pada tahun 1823 dalam rangkaian survei politik ekonominya hingga ke pantai timur Sumatera untuk kepentingan Pemerintahan Kerajaan Inggris saat itu.

Tidak hanya itu, kemajuan dan kemakmuran kawasan Deli saat itu yang mendunia telah memancing animo warga mancanegar untuk bermigrasi ke kawasan itu. Sebut saja orang-orang dari daratan Cina. Mereka datang dan mengais rezeki di pelabuhan itu sebagai kuli kontrak. Pelabuhan Belawan ini pun terus berkembang dan menjadi salah satu urat nadi bagi pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Utara. Mobilitas barang dan manusia di kawasan barat Indonesia juga mancanegara sangat bergantung dari pelabuhan yang terletak di Kota Medan itu.

Pada tahun 1915, Pelabuhan Labuhan Deli dipindahkan ke Belawan yang terletak di tepi Sungai Belawan. Hal ini disebabkan Sungai Deli kian dangkal, sehingga menghambat kapal masuk alur Sungai Deli menuju Labuhan Deli. Oleh Pemerintah Belanda saat itu, dermaga Belawan lama dipergunakan untuk sandar berbagai jenis kapal, baik kapal kargo maupun kapal panumpang.

Pada tahun 1938, Pelabuhan Belawan menjadi pelabuhan terbesar di wilayah Hindia-Belanda. Dan Pelabuhan Belawan menjadi tempat persinggahan kapal-kapal samudra dari maskapai pelayaran. Akan tetapi, pada rentang tahun 1940-1942 ekspor dari Pelabuhan Belawan terhenti karena seringnya pesawat-pesawat pembom Jepang menyerang Belawan dan Polonia Medan, tatkala Jepang memaklumkan perang terhadap Amerika, Inggris dan Belanda.

Belawan Kekinian

Sebagai negara kepulauan dan untuk kepentingan konektivitas antarpulau dan daerah, Pelabuhan Belawan terus diperbaharui sesuai kepentingan dan pemanfaatnya. Sejak kemerdekaan Indonesia, Pelabuhan Belawan menjadi pelabuhan internasional karena letaknya sangat strategis di pinggir pantai.

Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan lalu menata dan menjadikannya sebagai pelabuhan barang domestik. Sementara internasional akan dikhususkan ke Pelabuhan Kuala Tanjung. Kuala Tanjung dipilih sebagai pelabuhan hubungan internasional karena didukung dengan fasilitas. Di antaranya sisi dermaga yang dalam, sehingga bisa ditambat oleh kapal besar.

Terminal peti kemas Pelabuhan Belawan pun dibangun untuk mendukung alihfungsinya sebagai pelabuhan bongkar muat. Berdasarkan data 2017, total arus bongkar muat barang mencapai 25,2 juta TEUs. Luas terminal peti kemas yang sudah ada, yaitu 127.518 meter persegi dengan panjang dermaga 550 meter, dan terus diperluas menjadi 157.700 meter persegi dengan panjang dermaga 350 meter dan selanjutnya menjadi luas 160.000 meter dengan panjang dermaga 350 meter.

Pembiayaan pelabuhan tersebut bersumber dari pinjaman Islamic Development Bank senilai 87,55 juta dolar AS, juga berasal dari Pelindo, dengan anggaran Rp3,19 triliun.

Dengan fasilitas yang tersedia di pelabuhan itu, diharap laju bongkar muat barang terus lancar untuk mendorong percepatan distribusi barang demi kemajuan ekonomi masyarakat di daerah itu juga merambah ke daerah lainnya di Nusantara. Setidaknya semangat tol laut untuk menkoneksikan komunikasi antarpulau oleh Presiden Joko Widodo saat ini bisa terus terjadi demi kemakmuran rakyat yang berkeadilan.

(kha)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini