Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Pelabuhan Belawan: Urat Nadi Ekonomi Sumatera

Adi Rianghepat , Jurnalis-Sabtu, 16 Maret 2019 |13:59 WIB
Pelabuhan Belawan: Urat Nadi Ekonomi Sumatera
Foto: Pelindo
A
A
A

Dalam perkembangannya pada 1938, Pelabuhan Belawan menjadi salah satu pelabuhan terbesar di Hindia Belanda dihitung dari nilai kargo barang. Namun demikian, setelah kemerdekaan Indonesia, volume kargo turun signifikan.

Selain menjadi salah satu pusat niaga, Bandar Labuhan Deli kemudian dijadikan sebagai salah satu sentra penelitian para pemuka dan peneliti. Sebut saja, John Anderson seorang utusan Gubernur Penang WE Philips yang datang ke Labuhan Deli pada tahun 1823 dalam rangkaian survei politik ekonominya hingga ke pantai timur Sumatera untuk kepentingan Pemerintahan Kerajaan Inggris saat itu.

Tidak hanya itu, kemajuan dan kemakmuran kawasan Deli saat itu yang mendunia telah memancing animo warga mancanegar untuk bermigrasi ke kawasan itu. Sebut saja orang-orang dari daratan Cina. Mereka datang dan mengais rezeki di pelabuhan itu sebagai kuli kontrak. Pelabuhan Belawan ini pun terus berkembang dan menjadi salah satu urat nadi bagi pertumbuhan ekonomi di Provinsi Sumatera Utara. Mobilitas barang dan manusia di kawasan barat Indonesia juga mancanegara sangat bergantung dari pelabuhan yang terletak di Kota Medan itu.

Pada tahun 1915, Pelabuhan Labuhan Deli dipindahkan ke Belawan yang terletak di tepi Sungai Belawan. Hal ini disebabkan Sungai Deli kian dangkal, sehingga menghambat kapal masuk alur Sungai Deli menuju Labuhan Deli. Oleh Pemerintah Belanda saat itu, dermaga Belawan lama dipergunakan untuk sandar berbagai jenis kapal, baik kapal kargo maupun kapal panumpang.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement