nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ganjar Sambut Slankers hingga Warga di Apel Kebangsaan Lapangan Simpang Lima Semarang

Taufik Budi, Jurnalis · Minggu 17 Maret 2019 09:34 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 03 17 512 2031064 ganjar-sambut-slankers-hingga-warga-di-apel-kebangsaan-lapangan-simpang-lima-semarang-X88kltnhyU.jpg Ganjar di Apel kebangsaan (Foto: Taufik Budi/Okezone)

SEMARANG - Slanker dan berbagai kelompok massa mulai memadati kawasan Simpang Lima Semarang untuk mengikuti Apel Kebangsaan "Kita Merah Putih". Bahkan, para Slanker sudah berdatangan sejak pukul 01.30 WIB menumpang bus maupun mengendarai sepeda motor berombongan.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyapa warga yang mulai memadati lokasi acara sambil bersepeda. Mereka adalah rombongan dari Kabupaten Temanggung, kemudian para Slanker dari Kenjeran Surabaya, Jawa Timur yang membawa bendera besar bertuliskan Jamaah Slank Kenjeran.

"Selamat datang di Kota Semarang. Selamat mengikuti Apel Kebangsaan. Jaga keamanan, ketertiban, dan buanglah sampah di tempat yang sudah disediakan ya," kata Ganjar, Minggu (17/3/2019).

 Baca juga: Sebar Hoax, Polri Minta Media Tak Jadikan Akun Opposite6890 sebagai Sumber Berita

Sejak pukul 06.00 WIB, para peserta sudah berduyun-duyun ke lokasi acara. Mengenakan pakaian serba merah putih dan ikat kepala merah putih, mereka berkerumun di empat panggung yang disediakan panitia.

Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo terlihat memantau lokasi-lokasi panggung sembari mengayuh sepedanya. Sesekali dia menyapa warga dan melayani berselfie ria.

 ganjar Pranowo (taufik budi)

"Wah ramai sekali, ini dari mana?" tanya Ganjar.

"Pekalongan, Pak," ujar perempuan perempuan berikat kepala.

"Brebes Pak, Pemalang hadir Pak," sahut lainnya sambil berteriak.

Ganjar mengatakan, dirinya sangat senang karena dapat melihat wajah-wajah bahagia dari masyarakat. "Sejak pagi mereka bahagia, pesan bahagia menjadi penting ditengah kondisi saat ini. Lihat ini, mereka senang, mereka bahagia. Maka sebenarnya, seperti inilah seharusnya wajah Indonesia," ujarnya.

 Baca juga: Soal 3 Emak-Emak Kampanye Hitam ke Jokowi, Polisi Belum Temukan Tersangka Baru

Ganjar menerangkan, di tengah kondisi bangsa yang mulai terpecah karena suhu politik yang memanas, maka persatuan, kesatuan saling menghormati dan menghargai baik di dunia nyata maupun virtual termasuk di medsos sekarang ini sangat penting sekali.

"Harapannya setelah acara ini, semua masyarakat dapat menunjukkan toleransi yang tinggi, yang tulus. Sehingga kalau kita berbeda pilihan baik dalam legislatif, pilpres, biasa saja, ndak papa. Jangan sampai bermusuhan, ya kira-kira gunakanlah kata-kata yang baik," tegasnya.

Tak lupa Ganjar pun berpesan kepada seluruh masyarakat untuk bijak dalam bermedia sosial. "Hati-hati dengan jarimu. Jarimu sekarang bisa menjadi harimaumu. Jaga tutur kata yang baik agar tidak menyakiti hati saudara-saudara kita," tutupnya.

Dari pantauan Okezone, tampak pula taruna-taruna Akpol Semarang dan kelompok Bhinneka Ekasanti Data yang sedang memainkan gamelan Bali. "Kami dari Kenjeran, Surabaya pukul 23.30 WIB. Ada enam mobil," kata Andy Firmansyah, Slanker dari Surabaya saat ditemui di ujung Taman Indonesia Kaya.

Sementara itu, Jumhadi (54) warga Tretep Temanggung mengaku, kehadirannya bersama warga lain sebagai bentuk partisipasi mendukung Indonesia yang damai, menjelang dan pasca-Pemilu 17 April 2019.

 Baca juga: Polisi Sita HP dari 3 Perempuan Diduga Pelaku Kampanye Hitam ke Jokowi

Sementara itu, acara dimulai dengan penampilan Letto membawakan lagu Permintaan Hati. Suara serak-serak basah dari Noe (Sabrang Mowo Panuluh) sang vokalis memancing ribuan masyarakat yang memadati lapangan turut menyanyi bahkan berteriak.

"Dengarkanlah permintaan hati yang teraniaya sunyi. Dan berikanlah arti pada hidupku yang terhempas, yang terlepas pelukanmu, bersamamu aku tenang selalu."

Di sela-sela menyanyikan lagu yang sarat makna tersebut, Noe membangkitkan semangat kebangsaan pada penonton. Menurut Noe, menyanyi adalah salah satu upayanya merawat kewarasan berbangsa.

"Sehat, waras? Semoga mulai hari ini kita tambah sehat, ora gendeng. Kita nyanyi untuk Indonesia dan tunjukkan kita semua bersaudara," kata Noe.

Sebelum melanjutkan pada lagu kedua, Noe kembali berpesan bahwa sangat tidak layak menjadikan sesama warga Indonesia sebagai musuh. Perbedaan sudah menjadi kemutlakan di Tanah Air. Namun yang jadi musuh Indonesia adalah ketidakwarasan.

"Musuh kita bukanlah saudara kita, musuh kita bukanlah sesama warga Indonesia. Musuh kita adalah kebodohan, ketidakwarasan, musuh kita adalah kekerdilan," katanya.

Untuk mengantisipasi warga yang masih membuang sampah sembarangan, tim kebersihan yang didominasi remaja itu berjalan sambil membawa plastik hitam besar. Toilet portabel pun sudah disediakan panitia di sejumlah titik strategis.

Aparat kepolisian berseragam lengkap dengan senjata laras panjang maupun berseragam sipil juga sudah siap siaga di sejumlah titik, mengingat kegiatan ini ada empat panggung. Di Jalan Pahlawan, Jalan Pandanaran, Jalan Ahmad Yani dan panggung utama di Lapangan Pancasila.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini