Share

Sambut Kepulangan Guru dari Luar Negeri, Kemdikbud: Kita Harus Bisa Contoh Negara Maju!

Senin 25 Maret 2019 11:16 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 25 1 2034522 sambut-kepulangan-guru-dari-luar-negeri-kemdikbud-kita-harus-bisa-contoh-negara-maju-EQlyOvHVb4.jpg Acara penyambutan para guru yang baru pulang dari pelatihan di luar negeri (Foto: Okky/Okezone)

JAKARTA – Pelatihan Pendidik dan Tenaga Kependidikan ke Luar Negeri 2019 yang digelar oleh Kementerian Pendidikaan dan Kebudayaan (Kemdikbud) telah mencapai proses akhir. Para peserta yang jumlahnya 1.000 orang sudah pulang ke Indonesia setelah mengikuti pelatihan selama tiga minggu sejak 1 Maret 2019.

Sebanyak 1.000 guru terdiri dari tenaga pendidik di jenjang SD, SMP, SMA hingga SMK itu, disebar ke 12 negara, di antaranya Korea, Finlandia, Australia, Jerman, Jepang, Prancis, Singapura, Tiongkok, Hongkong dan Belanda. Program pelatihan ke luar negeri bertujuan agar tenaga pendidik mendapat pengalaman dalam sistem pembelajaran di era Revolusi 4.0.

Sekretaris Direktorat Jendral Guru dan Tenaga Kerja Kemdikbud, Wisnu Aji, mengatakan program mengirim guru ke luar negeri telah sukses dilaksanakan tanpa ada kendala maupun keluhan dari para guru.

Sebanyak 1.000 guru yang mengikuti pelatihan di luar negeri tahun ini, jumlahnya lebih tinggi dari tahun-tahun sebelumnya. Ke depan harapannya tak hanya guru di jenjang pendidikan S1 yang diberangkatkan, tetapi juga S2 hingga S3. Selain pelatihan ke luar negeri, Bea Siswa Juga disediakan untuk para guru.

”Kami memberikan banyak beasiswa untuk para guru yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi salah satunya beasiswa LPDP yang kami prioritaskan untuk para guru,” tutur Wisnu saat menyambut para guru di Hotel Millenium, Jakarta Pusat, Minggu (24/3/2019) malam.

Mengirim guru ke luar negeri merupakan investasi untuk dunia pendidikan dan kualitas mengajar di Indonesia. Kemdikbud akan terus melanjutkan program ini di tahun-tahun berikutnya dengan menyasar peserta lebih banyak dan negara tujuan lain yang juga layak untuk dijadikan best smart.

“Yang terpenting kita keluar negeri sudah ada manfaatnya. Kita datang dan melihat bagaimana budaya disana, bagaimana masyarakat menjaga kedisiplinan dan kebersihan sehingga kita bisa melihat bahwa ciri-ciri negara maju seperti apa,” ungkap Wisnu.

Ciri negara maju menurut Wisnu, bisa dilihat dari cara negara tersebut menghargai sejarahnya, seperti museum yang terjaga baik bangunan maupun peninggalan-peninggalan di dalamnya. Kemudian kebersihan negara tersebut yang mencerminkan tingginya kesadaran masyarakat menjaga lingkungan. Ketiga bisa dilihat dari masyarakatnya yang disiplin, baik itu dengan waktu maupun aturan.

“Kita harus bisa mencontoh negara maju dengan ciri-ciri tersebut,” katanya.

Sementara itu, Kartika, guru yang ikut pelatihan ke Australia, membagikan pengalaman selama tiga minggu mengikuti pelatihan di negeri kangguru. Banyak pengalaman yang ia dapat mulai dari ilmu dan wawasan.

"Kita di sana melihat budaya di Australia bagaimana, orang-orangnya seperti apa. Tentu itu pengalaman luar biasa buat saya apalagi tujuan ke sana pelatihan. Yang kita pelajari disini (Indonesia) dengan yang di luar negeri ternyata sangat berbeda. Dengan pelatihan ini, saya juga jadi tahu sistem pendidikan di negara maju seperi apa,” tutur Kartika kepada Okezone.

Dia menjelaskan, di luar negeri, sistem pembelajaran di sekolah-sekolah sudah mengandalkan teknologi. Sementara di Indonesia, belum semua sekolah bisa menerapkan sistem tersebut. Baik dari sisi infrastruktur maupun tenaga pengajarnya.

“Kalau kita memang mau total mengikuti atau mengadaptasi sistem pembelajaran yang ada di sana sebetulnnya bisa, hanya saja cukup sulit," akunya.

Kendati begitu, ia tetap optimis sistem pendidikan Indonesia bisa mengikuti negara maju. Terpenting, tenaga pendidik tetap melakukan yang terbaik untuk proses belajar mengajar yang lebih baik pula.

"Kalau ada yang bisa kita terapkan di sekolah kita, yang pas dengan keadaan kenapa engga. Entah itu dilihat dari metode pembelajarannya atau learning activenya, kalau memang bisa diadaptasi ya kita adaptasi kalo memang belum ya kita usahakan,” ungkapnya.

Peliput: TIM DITJEN GTK

(ris)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini