Share

Kisah Mistis Gedung Bekas Kantor Kawedanan Karangpandan Karanganyar

Agregasi Solopos, · Senin 25 Maret 2019 02:07 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 25 512 2034413 kisah-mistis-gedung-bekas-kantor-kawedanan-karangpandan-karanganyar-hUUzKmB1Iv.jpg Warga Mengambil Air di Bekas Kantor Kawadenan Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah (foto: Wahyu Prakoso/Solopos)

KARANGANYAR - Ada cerita mistis di balik gedung berwana peach yang terletak di Jalan Lawu Timur Terminal Karangpandan, Karanganyar. Di gedung inilah, pemimpin kawedanan (wedana) Karangpandan dulunya berkantor.

Lalu seperti apa cerita mistis di balik gedung bekas kantor Kawadenan ini?

(Baca Juga: Percaya atau Tidak, Lukisan Gadis di Pangandaran Ini Bisa Tersenyum dan Menangis!) 

Wedana merupakan pembantu bupati yang memimpin beberapa camat. Karanganyar pada masa penjajahan Belanda dibagi menjadi tiga wilayah kawedanan yaitu Kawedanan Karanganyar, Kawedanan Karangpandan, dan Kawedanan Jumapolo.

Setelah proklamasi, Karanganyar bertambah satu wilayah kawedanan yaitu Kawedanan Wonoharjo. Salah satu mantan pegawai Kawedanan Karangpandan, Soekarno (71) menjelaskan, Kawedanan Karangpandan membawahi enam kecamatan yaitu, Kecamatan Karangpandan, Kecamatan Matesih, Kecamatan Tawangmangu, Kecamatan Ngargoyoso, Kecamatan Jenawi, dan Kecamatan Kerjo.

“Saya bekerja di kantor Kawedanan Karangpandan sejak 1970. Saya tidak tahu persis sejarah bangunan tersebut. Mungkin dulu rumah milik Mangkunegaran. Kemudian, oleh pemerintah dijadikan sebagai rumah dinas dan kantor. Tidak perlu membuat gedung baru untuk kantor Wedana,” katanya kepada Solopos saat ditemui di rumahnya.

Pada 1970, Wedana Karangpandan dibantu enam pegawai yaitu kepala kantor, bidang pemerintahan, juru bayar, bagian surat, pelayanan, dan penjaga malam. Selama 30 tahun Karno bertugas di kantor tersebut, sudah ada 10 kali pergantian wedana dan penambahan pegawai.

Di kompleks tersebut, terdapat satu rumah dinas. Di timur rumah dinas berdiri bangunan musala baru. Berjalan ke sisi barat rumah, terdengar aliran air irigasi yang tertutup beton.

Di sisi barat rumah dinas, terdapat pendapa dan kantor. Sisi paling barat, ada satu kolam. Rumah dan kantor tertutup rapat sehingga Solopos tidak bisa masuk.

“Dulu bangunan hanya rumah dinas, garasi, pendapa, kantor, dan kolam. Musala dibangun dinas pariwisata. Wedana dan keluarga tinggal di rumah tersebut. Kolam tidak seperti sekarang, sekarang kolamnya kecil. Pagar hanya terbuat dari bambu dan banyak pohon besar,” kata dia.

Dia menjelaskan, rumah dinas wedana itu terdiri atas enam ruangan, yaitu satu kantor wedana, tiga kamar tidur, satu ruangan perkakas, dan satu kamar kosong. Dia mengatakan kamar kosong tersebut tidak dipakai karena konon memiliki cerita mistis.

“Orang tidak boleh tidur di ruangan itu. Kalau ada yang berani tidur di kamar tersebut, secara tidak sadar dia berpindah tempat,” kata dia.

(Baca Juga: Cerita Gerombolan Harimau Menyerbu Perkampungan di Bengkulu) 

Karno menjelaskan sejak 1975 kantor camat dipindahkan ke wilayah masing-masing. Kantor pembantu bupati masih beroperasi hingga dilikuidasi pada 2000. Seluruh pegawai dipindahkan ke kantor dinas.

Dia menjelaskan pada 2002 kantor kawedanan disewakan kepada Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah selama 10 tahun. Kini, kantor kawadenan tidak dipakai. Pedagang sekitar terminal memanfaatkan teras bangunan untuk menyimpan meja dan kursi.

Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Karanganyar sebagai pengelola bangunan berencana menjadikan bangunan itu sebagai rumah kreatif Karanganyar.

Baca Juga: Lifebuoy x MNC Peduli Ajak Masyarakat Berbagi Kebaikan dengan Donasi Rambut, Catat Tanggalnya!

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini