Share

TKN: Jokowi Kembali Unggul di Debat Keempat, Prabowo Bicara Tanpa Solusi

Fakhrizal Fakhri , Okezone · Minggu 31 Maret 2019 08:55 WIB
https: img.okezone.com content 2019 03 31 605 2037314 tkn-jokowi-kembali-unggul-di-debat-keempat-prabowo-bicara-tanpa-solusi-fdYhd281lp.jpg Juru Bicara TKN Ace Hasan Syadzily. (Foto: Okezone)

JAKARTA – Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Ace Hasan Syadzily, mengatakan debat keempat pilpres bertema 'Ideologi, Pemerintahan, Pertahanan, Keamanan, dan Hubungan Luar Negeri' kembali dimenangkan Jokowi. Calon presiden nomor urut 01 itu dinilai mampu menyampaikan program-program konkret dan menguasai tema yang dibahas.

Ace melanjutkan, sementara capres nomor urut 02 Prabowo Subianto sebaliknya, tidak dapat mengelaborasi visi dan misinya di bidang tersebut dengan baik. Ia mengatakan Prabowo lebih banyak mengkritik tapi tidak menawarkan solusi konkret.

"Dalam bidang ideologi, Jokowi menyampaikan langkah-langkah yang lebih maju terkait dengan penanaman ideologi Pancasila kepada generasi muda. Jokowi tampak lebih spesifik dan solutif dalam menjawab. Selain melalui pendidikan, Beliau juga mencontohkan penanaman nilai Pancasila melalui visual di media sosial agar penanaman nilai Pancasila sejalan dengan generasi muda," kata Ace dalam keterangannya, Minggu (31/3/2019).

Sementara Prabowo, kata dia, menjawab tentang pendidikan Pancasila dengan program yang sudah berjalan saat ini yaitu pendidikan sejak dini hingga kuliah S-3. Pendidikan Pancasila ini sudah sejak lama diberikan dalam dunia pendidikan.

(Baca juga: Visi-Misi Jokowi Dinilai Makin Relevan di Debat Keempat Capres)

Ace menuturkan, Jokowi lebih memahami perkembangan zaman dan memahami dunia anak muda dengan pendekatan yang mudah dipahami serta bukan indoktrinatif. Sebaliknya, kata dia, Prabowo masih pendekatan yang lama yang justru tanpa dijelaskan metodologinya yang lebih sesuai dengan generasi muda saat ini.

"Di bidang pemerintahan, Jokowi menjelaskan dengan sangat baik tentang dua hal. Pertama, kinerja pemerintahan yang melayani. Kedua, pemerintahan yang harus dapat memanfaatkan teknologi informasi, terutama digital. Jokowi dalam pemerintahannya telah memulai e-government seperti e-planning, e-budgeting, e-procurement, dan e-reporting," paparnya.

Dia melanjutkan, Jokowi kembali memperkenalkan istilah milenial, yaitu Dilan atau 'digital melayani'. Konsep ini jelas akan mempertegas fungsi sejati pemerintahan ialah memberikan pelayanan yang cepat, memangkas birokrasi yang berbelit-belit, bertele-tele, dan rawan korupsi.

Ace mengatakan, sementara Prabowo kembali mengulang isu lama yang sering dilontarkannya, yaitu keboncoran anggaran, tax ratio, korupsi stadium IV, dan kekayaan Indonesia di luar negeri. Ia mengungkapkan, Prabowo tidak menyampaikan secara jelas apa solusi yang ditawarkan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dia tuduhkan tersebut. Pertanyaan tentang Mal Pelayanan Publik tidak dapat dijelaskan secara meyakinkan dan terlihat tidak menguasai isu-isu tentang pelayanan pemerintahan.

Sedangkan dalam bidang pertahanan, lanjut dia, Jokowi menunjukkan kepercayaannya kepada TNI sebagai alat pertahanan negara. Walaupun bukan berlatar belakang militer, penguasaan terhadap isu keamanan sangatlah impresif. Penjelasannya tentang reorganisasi gelar pasukan yang ditempatkan di pulau-pulau terluar yang dilengkapi dengan perlengkapan seperti radar menunjukkan bahwa Jokowi sebagai panglima tertinggi menguasai pertahanan. Ini menujukkan bahwa supremasi sipil dalam negara demokrasi telah ditunjukkan dengan sangat kuat pada figur Jokowi.

"Sementara Prabowo yang berlatar belakang militer justru menunjukkan arogansinya sebagai bekas TNI dengan menunjukkan ketidakpercayaannya terhadap kemampuan institusi yang membesarkannya itu. Kritiknya soal kemampuan pertahanan kita yang lemah dan anggaran pertahanan yang dinilai rendah tidak disertai dengan solusi yang masuk akal dan dapat diterima. Prabowo tidak mampu menjelaskan alternatif program yang dapat memperkuat alat utama sistem persenjataan kita," ucapnya.

(Baca juga: Terkesan Pidato Hologram Jokowi, Warga Sukabumi Makin Yakin Coblos Paslon 01)

Dalam bidang luar negeri, lanjut Ace, Jokowi menyampaikan modalitas Indonesia sebagai penduduk muslim terbesar di dunia yang menunjukan Islam moderat dan nilai toleransi. Dengan modal itu, Indonesia mampu menjadi contoh dari dunia Islam yang dapat menyelesaikan konflik berbasis agama. Peran Indonesia dalam pergaulan internasional digambarkan Jokowi seperti Afghanistan dan Rohingya, menujukkan bahwa Indonesia diperhitungkan dalam relasi global tersebut.

"Di bidang luar negeri, Prabowo menunjukkan ketidakpercayaannya terhadap kemampuan diplomasi Indonesia. Prabowo selalu merefer pada keadaan domestik kita. Padahal dengan kemampuan diplomasi kita, justru akan berimplikasi terhadap penguatan urusan domestik kita. Kemampuan diplomasi luar negeri yang kuat, justru akan mendatangkan kepercayaan internasional terutama dalam bidang ekonomi kepada Indonesia sehingga urusan dalam negeri kita akan dapat kepercayaan investasi asing, perluasan pasar ekspor di luar negeri, dan lain-lain," tuturnya.

Ace menerangkan, secara umum Jokowi telah menujukkan kualitas pemimpin yang matang, teruji, dan lebih solutif. Beliau sangat tenang dalam menjawab serangan-serangan Prabowo. Sementara Prabowo menujukan pemimpin yang emosional dan meledak-ledak. Menyelesaikan persoalan bangsa tidak cukup dengan emosional tanpa ketenangan berpikir dalam mencari solusi yang terbaik. Secara umum Jokowi tetap unggul dengan kematangan, kekuatan argumentasi, menjelaskan secara rinci program dan tawaran solusi yang tepat.

Baca Juga: Saatnya Anak Muda Bangkit Bersama untuk Indonesia Bersama Astra

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini