China Tangkap Warga Australia Terkait Intelijen

ABC News, · Senin 08 April 2019 08:09 WIB
https: img.okezone.com content 2019 04 08 18 2040373 china-tangkap-warga-australia-terkait-intelijen-8TrJ3yODrm.jpg Penjara (Shutterstock)

CHINA - Pemerintah China menginterogasi dan menangkap warga Australia terkait penyelidikan pengaruh China di Australia. Penyelidikan ini mulai digelar saat Malcolm Turnbull masih menjabat perdana menteri.

Agen intelijen China kabarnya berusaha mendapatkan informasi tentang John Garnaut, yang ditunjuk PM Turnbull untuk memimpin penyelidikan rahasia ASIO pada tahun 2016.

Investigasi badan intelijen Australia ini untuk menyelidiki campur-tangan China di negara itu.

 Baca juga: Presiden Duterte Minta Semua Kontrak Filipina dengan China Ditinjau Ulang

Salah satu warga Australia yang juga mantan pejabat China Yang Hengjun, telah ditahan di sana sejak Januari lalu. Sejauh ini dia tidak diberi akses ke pengacara.

Investigasi bersama program Four Corners, The Age dan The Sydney Morning Herald berhasil mengungkapkan interogasi yang dialami kedua pria keturunan Tionghoa yang kini tinggal di Australia.

Penulis dan akademisi Dr Feng Chongyi mengungkapkan intelijen China menahan dirinya selama beberapa hari pada 2017 dan menginterogasinya soal John Garnaut.

 https://www.abc.net.au/cm/rimage/10979842-3x2-large.jpg?v=2

Menurut Dr Feng, China ingin tahu setiap detail mengenai penasehat PM Turnbull itu.

"Mereka tahu banyak tentang dia. Selama interogasi, mereka tak menyembunyikan betapa mereka marah kepadanya," katanya.

Dr Feng mengatakan pejabat keamanan China juga mengancam dirinya jika sampai mengungkapkan interogasi yang dialaminya itu.

 Baca juga: Seorang Pria Bergantungan di Jendela Lantai 23 Apartemen Demi Melarikan Diri dari Polisi

Garnaut yang dihubungi terpisah menyatakan interogasi itu menambah serangan China terhadap kedaulatan Australia.

Selain itu, pada tahun 2018 Yang Hengjun yang sudah jadi warga negara Australia diduga dicegat dan diinterogasi oleh pejabat China di Sydney.

Garnaut mengatakan intelijen China sangat tertarik dengan penyelidikan ASIO yang dilakukannya.

"Mereka menanyai Yang mengenai saya, seperti apa hubungan kami, apa yang saya lakukan," kata Garnaut.

Pada 19 Januari 2019, Yang ditahan intelijen China saat tiba di Guanghzou dari AS. Dia dituduh membahayakan keamanan China.


Isteri pun dicekal

Garnaut mendesak Pemerintah Australia untuk mengupayakan pembebasan Yang.

Istri Yang, Xiaoliang Yuan, pun telah dilarang meninggalkan China dan dari Shanghai mendesak Pemerintah Australia membantu membebaskan suaminya.

 Baca juga: Filipina dan China Bersitegang soal Pulau Thitu

"Setidaknya Pemerintah Australia menjaga keselamatan warganya ketika mereka berada di luar negeri. Tetapi sekarang saya merasa sangat kecewa," katanya.

"Kondisinya semakin sulit. Saya tidak bisa menemuinya. Sama sekali tidak ada yang bisa kami lakukan saat ini," ujarnya.

"Saya hanya ingin dia pulang dengan selamat," kata Xiaoliang.

Sementara itu anggota DPR Andrew Hastie menyatakan Australia harus mengusahakan pembebasan Yang.

"Yang seorang warga negara Australia. Ia memiliki hak dan tanggung jawab sebagai warga Australia. Bagaimana bisa dijamin bahwa kita tidak akan ditahan jika kita ke China?" katanya.

Andrew Hastie memimpin komite intelijen dan keamanan di parlemen yang mendorong perubahan aturan intervensi asing tahun lalu.

"Ada beberapa negara otoriter yang terlibat intervensi di berbagai negara. Tetapi di Australia, Partai Komunis China yang paling aktif," katanya.

"China berusaha mempengaruhi elit kita, khususnya elit politik dan pengusaha, untuk mencapai tujuan strategis mereka," ujarnya.

Investigasi ini juga mengungkapkan adanya kegiatan politik Beijing di Australia dan bagaimana China berusaha membungkam kritik tersebut di Australia.

Jaksa Agung Christian Porter menyatakan bantuan konsuler kepada Yang terbukti agak sulit, tetapi memastikan pejabat Australia telah berusaha membantu warganya yang ditahan di China.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini