nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dikudeta, Presiden Sudan Omar Al Bashir Dilaporkan Ditempatkan dalam Tahanan Rumah

Rahman Asmardika, Jurnalis · Kamis 11 April 2019 18:39 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 04 11 18 2042188 dikudeta-presiden-sudan-omar-al-bashir-dilaporkan-ditempatkan-dalam-tahanan-rumah-TkgBNBuoZ6.jpg Presiden Sudan, Omar al-Bashir. (Foto: Reuters)

KHARTOUM – Putra pemimpin oposisi Sudan pada Kamis mengatakan bahwa Presiden Omar al-Bashir saat ini telah ditempatkan dalam tahanan rumah menyusul laporan terjadinya kudeta militer di negara Afrika utara tersebut.

Kepada stasiun televisi Al Hadath, Al Sadeeq Sadiq al-Mahdi, putra dari pemimpin oposisi Sudan Sadiq al-Mahdi mengatakan, Omar al-Bashir ditahan dengan penjagaan ketat bersama sejumlah pimpinan organisasi Ikhwanul Muslimin lainnya. Sumber lain yang dilansir Reuters, Kamis (11/4/2019) mengatakan bahwa presiden berusia 75 tahun itu ditahan di kediaman resmi presiden.

BACA JUGA: Militer Sudan Dilaporkan Telah Kudeta Presiden Omar Al Bashir

Sudan tengah berada dalam ketidakpastian setelah muncul laporan mengenai kudeta yang dilakukan oleh militer terhadap Bashir. Kudeta tersebut terjadi menyusul demonstrasi massal yang dimulai sejak Desember lalu, menuntut pengunduran diri sang presiden.

Kamis pagi, televisi pemerintah mengatakan militer akan segera membuat pengumuman terkait situasi yang terjadi. Tetapi beberapa jam kemudian belum ada pernyataan yang disampaikan, sementara muncul laporan mengenai adanya perbedaan pendapat mengenai susunan dewan transisi.

BACA JUGA: Protes Terus Bergulir, Presiden Sudan Melawat ke Mesir dan Qatar

Bashir merebut kekuasaan di Sudan melalui kudeta tak berdarah pada 1989 dan terus berkuas sejak saat itu. Dia menjadi sosok kontroversial yang membelah rakyat Sudan dan telah berhasil melewati berbagai krisis di dalam negeri di tengah upaya negara-negara Barat untuk melemahkannya.

Dia telah didakwa oleh Pengadilan Kriminal Internasional di Den Haag dan menghadapi surat perintah penangkapan atas tuduhan genosida di wilayah Darfur, Sudan selama pemberontakan yang dimulai pada 2003. Diperkirakan lebih dari 300.000 orang tewas dalam konflik tersebut.

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini