Setara Institute: Pemilu 2019 Berjalan Baik, Tapi Belum Sempurna

Senin 29 April 2019 20:44 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 04 29 605 2049566 setara-institute-pemilu-2019-berjalan-baik-tapi-belum-sempurna-JRvASWuNMj.jpg Ketua Setara Institute Hendardi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pemilu 2019 merupakan Pemilu serentak pertama yang diadakan di Indonesia setelah sebelumnya terjadi pemisahan antara Pilpres dan Pileg. Di luar alasan konstitusionalitas keserentakan, menurut Hendardi, Ketua Setara Institute, secara teknis Pemilu serentak telah memberikan pembelajaran berharga bagi perbaikan di masa yang akan datang.

"Dari soal beban kerja penyelenggara, korban jiwa dan hilangnya fokus pemilih untuk memilih caleg-caleg berkualitas, karena konsentrasi pemilih terpusat pada Pilpres. Secara umum Pilpres berjalan dengan baik sesuai dengan hukum Pemilu yang telah didesain oleh para penyelenggaran negara," katanya melalui siaran pers, Senin (29/4/2019).

Hendardi menilai, ketidakpuasan dan tuduhan kecurangan dari beberapa pihak sebaiknya diselesaikan melalui mekanisme demokratik yang tersedia, baik sepanjang proses penghitungan suara dari tingkat kecamatan, KPUD dan KPU hingga ke Mahkamah Konstitusi. Bawaslu juga bisa menjadi saluran penyelesaian atas sengketa yang terjadi.

"Harus diakui, terdapat beberapa persoalan dalam Pilpres tetapi bersifat partikular dan kasuistik, sehingga tidak bisa dijadikan alasan mendelegitimasi kinerja para penyelenggara," tuturnya.

(Baca Juga: BPN Prabowo-Sandi Klaim Temukan 9 Ribu Kesalahan Real Count KPU)

Ilustrasi

Sebagian besar komplain atas Pilpres dan peristiwa yang dilaporkan telah direspons oleh KPU dan Bawaslu. Generalisasi kasus-kasus tertentu untuk menolak hasil Pemilu jelas merupakan kekeliruan dalam menilai Pemilu dan membahayakan proses demokrasi Indonesia.

Adapun kampanye penolakan atas hasil Piplres yang dilakukan oleh beberapa pihak, kata Hendardi, adalah ekspresi kritis yang berlebihan, karena seluruh saluran penyelesaian demokratik telah tersedia.

"Patut diingat tidak ada instrumen hukum, konstitusi dan kelembagaan apapun yang bisa membatalkan penyelenggaraan Pemilu, kecuali mempersengketakan hasil Pemilu melalui Mahkamah Konstitusi," katanya.

Hendardi menambahkan, berbagai praktik dan kasus yang tidak sejalan dengan prinsip Pemilu berintegritas, hendaknya didokumentasikan, dikaji dan didiskusikan guna perbaikan hukum Pemilu. "Termasuk desain Pemilu legislatif yang terpisah dari Pilpres, sistem penghitungan Pemilu legislatif yang meminimalisir kecurangan antar caleg, baik dalam satu partai maupun antarpartai, dan gagasan e-counting dan e-voting yang hemat biaya," ujarnya.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini