BUDAYAWAN Betawi, Yahya Andi Saputra menjelaskan, tradisi nyorog dalam menyambut bulan suci Ramadan saat ini sejatinya konteksnya hanya untuk menjaga tali silaturahmi antar keluarga. Di mana, yang lebih muda datang ke orang yang lebih tua untuk meminta maaf.
Namun memang, tradisi nyorog juga dilestarikan agar masyarakat khususnya orang asli Betawi yang beragama Islam agar tidak lupa terhadap sang pencipta atas apa yang telah diberikan, dalam artian harus pandai bersyukur.
"Tradisi nyorog itu untuk kita memperkokoh. Perkokoh tali kekeluargaan. Seraya itu, kita juga bersyukur kepada yang maha kuasa yaitu Tuhan, bahwa kita diberikan keberkahan di hidup ini, kita mohon. Nah, yang paling utama adalah penghambaan kita," kata Yahya saat berbincang dengan Okezone baru-baru ini.
Yahya menceritakan, zaman dulu, nyorog merupakan ajang pertemuan keluarga sebelum Ramadan tiba. Sebab, jarak rumah sanak famili mereka kebanyakan saling berjauhan. Sehingga, nyorog dijadikan sebagai ajang untuk bertemu sekaligus bermaaf-maafan antarkeluarga besar.
Perkampungan Betawi di Setu Babakan (Foto: Okezone)
"Artinya kita ingat kembali bapak kita, engkong kita, dengan cara itu kita bersilaturahim kepada abang-abang kita, ruwahan istilahnya. Kita nyorog ke abang-abang kita atau adik-adik kita yang masih kurang berkecukupan," terangnya.
Yahya menuturkan, awalnya tradisi nyorog memang ada sebelum masuknya Islam ke Indonesia. Nyorog berawal dari sebuah peristiwa ritus baritan atau sebuah upacara adat yang berkaitan dengan kepercayaan masyarakat terkait peristiwa alam. Ritus baritan merupakan refleksi interaksi antara manusia, lingkungan, dan kepercayaan kepada Tuhan.