“Kemudian banyak orang di situ menyalakan teng teng gung, itu seperti lampion. Di sepanjang jalan juga dinyalakan obor untuk menerangi. (Karena) pada saat itu Sultan Hadirin kesakitan, yang dibunuh di sekitar Mayong kemudian dibawa sampai Desa Purwogondo,” terang dia.

“Makanya di sepanjang jalan itu masyarakat menyalakan obor. Meski sekarang sudah ada listrik, tapi tradisi tetap dilestarikan, tetap menyalakan obor di sepanjang jalan yang dilalui Baratan. Mereka (warga) juga menenteng lampion-lampion. Bentuknya macam-macam,yang jelas di dalamnya ada api untuk penerangan,” beber dia.
Menurutnya, pawai Baratan yang pelaksanaannya dilaksanakan pada malam Nisfu Syakban bisa digeser sesuai kondisi. Kini pawai yang mengundang perhatian ribuan warga tersebut juga tak hanya berlangsung di Kalinyamatan tetapi juga tempat-tempat lain di Jepara.
“Baratan itu menjelang malam nisfu Syakban untuk menyambut Bulan Puasa. Dan sudah dilaksanakan pada 27 April di Kalinyamatan. Untuk harinya disesuaikan, karena di Kalinyamatan saat itu bertepatan dengan pengajian (Sabtu 20 April). Tidak hanya di Kalinyamatan tetapi juga ada di daerah Troso Ujung Batu,” jelasnya.