Tidak hanya itu, Agung juga menjelaskan bahwa koperasi merupakan perusahaan yang harus mampu menyesuaikan perubahan. “Di era revolusi industri 4.0, economic sharing, digital ekonomi, dan era generasi milenial ini maka koperasi harus mampu melakukan transformasi ke modern dan profesional,” katanya.
KSP TLM GMIT menyampaikan RAT dengan kinerja yang luar biasa. Koperasi yang berdiri 15 Februari 2010 dengan BH nomor 04/BH/XXIX/III/2010 dan menjadi koperasi primer nasional Pengesahan dari Kemenkop dan UKM Nomor 176/PAD/M.KUKM.2/XI/2013 itu merupakan salah satu koperasi berkualitas di Provinsi NTT.
Hingga tahun buku 2018, anggota KSP TLM GMIT mencapai 131.134 orang. Terdiri dari perempuan 76.963 orang, dan anggota peminjam sebanyak 77.362 orang. Jumlah anggota yang cukup besar dan partisipasi yang cukup baik karena 50% anggota bertransaksi dengan koperasinya. Kesemua anggota tersebut dilayani oleh 33 cabang serta oleh 472 karyawan.
Untuk aset, sampai tahun 2018 koperasi membukukan aset sebesar Rp135,3 miliar, ekuitas sebesar Rp27,7 miliar, dengan SHU sebesar Rp9,6 miliar. Kinerja bisnis koperasi sektor simpan pinjam ini semakin baik karena NPL semua produknya 0.77%. Sedangkan NPL untuk program membantu kaum perempuan miskin agar berdaya hanya 0,02%.
“Keberhasilan koperasi menekan NPL ini karena adanya pendekatan kedisiplinan dari koperasi kepada anggota dan kejujuran yang diberlakukan, apa yg disampaikan pengurus atau karyawan kepada anggota itu yang dilakukan, termasuk memberikan sanksi tegas kepada karyawan yang melakukan kesalahan apalagi melakukan penyimpangan atas keuangan koperasi,” kata Ketua KSP TLM GMIT, Pdt. Semuel V Nitti.
(Risna Nur Rahayu)