Malam di Kairo Berubah Menjadi Festival Selama Ramadan

Rachmat Fahzry, Okezone · Kamis 09 Mei 2019 21:18 WIB
https: img.okezone.com content 2019 05 09 18 2053644 malam-di-kairo-berubah-menjadi-festival-selama-ramdan-oIGvklcldF.jpg Lentera Tradisional diputar selama Ramadan di Kairo, Mesir. Foto/Reuters

KAIRO – Pemerintah Mesir menyiapkan program khusus selama Ramadan, yang mengubah Mesir menjadi magnet bagi pengunjung dari negara-negara Arab.

"Turis-turis Arab lebih suka datang ke sini, terutama saat ini di tahun ini, karena Ramadan di Mesir selalu berbeda," kata Ali Ghonem, anggota dewan Federasi Pariwisata Mesir, organisasi perusahaan perjalanan lokal.

"Di satu sisi, Mesir mendapat manfaat dari hubungan yang tegang antara beberapa negara Arab dan Turki, yang digunakan untuk menarik ratusan ribu pengunjung dari Teluk Arab."

Turki dianggap kurang aman setelah ada konflik dengan negara Arab, Mesir menjadi lebih menarik sebagai tujuan.

Mesir memiliki daya pikat khusus selama Ramadan. Negara ini adalah rumah bagi beberapa masjid tertua, dan Ramadan di Mesir juga menawarkan hiburan malam dan kelezatan kuliner.

Para pedagang memajang puluhan jenis kacang-kacangan dan buah-buahan kering, menjadikan stan di luar toko-toko mereka.

Di daerah miskin dan kelas menengah, anak-anak menghiasi jalanan dengan ornamen kertas dengan warna yang terang termasuk bola lampu dan lentera Ramadan tradisional.

Segera setelah umat Islam berbuka puasa, banyak orang dewasa pergi ke masjid, terutama yang besar untuk salat.

Setelah salat tarawih, distrik berusia berabad-abad di dekat pusat kota Kairo yang dikenal sebagai "Fatimiyah Kairo" menjadi pusat kehidupan malam selama bulan Ramaddan, tetapi ada puluhan tempat lainnya yang berlomba untuk mendapatkan perhatian para pengunjung.

Di Fatimid Kairo, yang mencakup pasar Khan el-Khalili dan masjid al-Azhar—yang berusia ribuan tahun—menambah kehidupan malam yang kaya, indah, dan berkesan.

Distrik ini menawarkan banyak kafe, tetapi sebagian besar pengunjung lebih menyukai Fishawi, kafe berusia 200 tahun yang terkenal sebagai tempat pertemuan bagi para artis , tokoh budaya, politik dan seni Mesir.

Foto/

Selain shisha, kafe ini menawarkan minuman panas tradisional.

Khan el-Khalili dipenuhi oleh toko-toko suvenir dan kios-kios yang menjual parfum, rempah-rempah, dan pakaian khas Mesir.

Kunjungan ke Fatimid Kairo terasa tak ada duanya. Bangunan di distrik masih menggunakan desain asli. Rumah-rumah, gang-gang dan kegiatan ekonomi wilayah ini masih sama dengan berabad-abad yang lalu.

Ghonem mengatakan banyak tamu berasal dari negara-negara Arab, terutama Arab Saudi, Kuwait dan Uni Emirat Arab.

"Kebanyakan turis Arab datang dari tiga negara itu," kata Ghonem. "Namun demikian, kami menerima pemesanan dari negara-negara Arab lainnya."

Tahun lalu, 3 juta orang Arab mengunjungi Mesir, termasuk lebih dari 900.000 dari Arab Saudi dan 160.000 dari Kuwait.

Jumlah pengunjung Arab terdiri hampir 30% dari semua wisatawan yang mengunjungi Mesir, kata Federasi Pariwisata Mesir.

"Turis Arab sangat penting bagi perekonomian nasional karena mereka menghabiskan lebih dari rata-rata pengunjung dan tinggal lebih lama," kata pakar pariwisata Soha Abdel Wahab.

“Mereka yang menghabiskan Ramadan di Mesir selalu pergi dengan pengalaman yang tak terlupakan. Ada banyak hal untuk dilihat dan dinikmati di negara kita ketika datang pada bulan suci seperti ini. Puasa itu tidak mudah, tetapi Mesir telah mengubah bulan Ramadan menjadi sesuatu yang ditunggu semua orang dari tahun ke tahun,” timpalnya. (fzy)

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini