nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Dituduh Menghina Raja, Tiga Aktivis Thailand Dilaporkan Hilang

Rahman Asmardika, Jurnalis · Sabtu 11 Mei 2019 12:51 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 11 18 2054393 dituduh-menghina-raja-tiga-aktivis-thailand-dilaporkan-hilang-zxLy4XA5KL.jpg Thailand memiliki hukum lese-majeste yang dapat menjatuhkan hukuman berat pada para penghina raja dan keluarga kerajaan. (Foto: Reuters)

BANGKOK – Tiga aktivis Thailand yang menghadapi tuntutan karena menghina monarki dilaporkan telah hilang setelah ditangkap di Vietnam. Hilangnya para aktivis itu dilaporkan oleh kelompok hak asasi, beberapa bulan setelah dua aktivis pengkritik militer Thailand yang diasingkan ditemukan tewas.

Wakil Perdana Menteri Thailand, Prawit Wongsuwan, membantah ketiga aktivis itu dalam tahanan Thailand, seperti yang telah dilaporkan kelompok Aliansi Thailand untuk Hak Asasi Manusia.

Dalam pernyataannya, Human Rights Watch mengatakan bahwa Chucheep Chiwasut, yang menyiarkan komentar politik ke Thailand dari pengasingan, dan dua aktivis lain Siam Theerawut dan Kritsana Thapthai dilaporkan telah diserahkan kepada pihak berwenang Thailand oleh Vietnam pada 8 Mei.

“Vietnam diduga secara rahasia memaksa mengembalikan ke Thailand tiga orang aktivis terkemuka seharusnya membunyikan bel peringatan bagi komunitas internasional,” kata Direktur Human Rights Watch Asia, Brad Adams sebagaimana dilansir Reuters, Sabtu (11/5/2019).

Amnesty International yang berbasis di London mengatakan Chucheep telah lama menghadapi tuduhan lese-majeste, atau tuduhan penghinaan terhadap monarki. Siam dan Kritsana juga sedang dalam penyelidikan polisi untuk lese-majeste.

Pasal 112 KUHP Thailand mengatakan siapa pun yang menghina raja, ratu, pewaris atau wali kerajaan menghadapi hukuman hingga 15 tahun penjara.

Aliansi Hak Asasi Manusia Thailand yang bermarkas di Amerika Serikat (AS) pertama kali melaporkan bahwa Chucheep,yang juga dikenal sebagai Paman Sanam Luang, telah dikirim kembali ke Thailand.

"Paman Sanam Luang dan dua orang lainnya ditangkap sebulan yang lalu. Tetapi mereka baru saja ditransfer ke Thailand pada 8 Mei dari Vietnam," kata aliansi itu Piangdin Rakthai dalam sebuah video YouTube.

Namun, Wakil Perdana Menteri Prawit membantah laporan itu.

"Vietnam belum mengoordinasikan transfer. Kami belum menerima permintaan apa pun. Jika ada, itu akan melalui kementerian luar negeri dan polisi," kata Prawit kepada wartawan.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia menuduh militer yang berkuasa menerapkan hukum lese-majeste secara lebih luas sejak kudeta militer 2014 sebagai cara untuk membungkam kritik.

Pada Januari, jasad dua kritikus militer dan keluarga kerajaan yang diasingkan, Chatcharn Buppawan, 56 tahun, dan Kraidej Luelert, 46 tahun, ditemukan berada di sepanjang perbatasan Sungai Mekong dengan Laos. Tubuh mereka telah diisi dengan beton, tampaknya untuk membuat mereka tenggelam.

Militer Thailand saat itu mengatakan bahwa mereka tidak memiliki informasi tentang mayat-mayat itu.

Aktivis Surachai Danwattananusorn, 78 tahun, yang mengoperasikan stasiun radio daring yang kritis terhadap junta dan monarki dari Laos, juga menghilang pada Desember. Keberadaannya tidak diketahui.

"Kami khawatir tentang situasinya," kata Piangdin dalam videonya.

"Ada penghilangan dan kematian aktivis politik yang menentang pemerintah militer dan mengkritik monarki."

(dka)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini