Gerindra Singgung "Buto Ijo" di Lingkaran Jokowi dan SBY

Fahreza Rizky, Jurnalis · Selasa 14 Mei 2019 16:06 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 05 14 605 2055577 gerindra-singgung-buto-ijo-di-lingkaran-jokowi-dan-sby-7RfQ7nWRmL.jpg Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Jokowi (Foto: Okezone)

JAKARTA - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra, Arief Poyuono meyakini Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri tidak akan menerima Partai Demokrat masuk ke dalam koalisinya. Arief pun menyinggung adanya "buto ijo".

Arief mulanya mengatakan Demokrat selalu menampilkan sikap cari selamat sendiri seperti undur-undur. Bila Demokrat "menyebrang" dari Koalisi Adil Makmur ke koalisi pemerintah, Arief yakin partai berlogo bintang mercy itu tidak akan diterima.

Musababnya, kata Arief, Ketua Umum Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memiliki masalah di masa lalu dengan Megawati. Pasalnya, pada 2004, SBY disebut menelikung Megawati hingga menghancurkan PDIP.

Presiden Jokowi

Dari kejadian masa lalu itu, Arief meyakini tak mudah bagi Megawati untuk menerima Demokrat bersama-sama dalam satu gerbong koalisi. Megawati dianggap Arief sebagai sosok yang teguh dengan pendirian politiknya. Apalagi, ketika SBY berkuasa dua periode, PDIP berada di barisan oposisi sekalipun sampai "gepeng."

(Baca Juga: Demokrat Buka Peluang Hengkang dari BPN pada 22 Mei)

Arief menuturkan, ketika rezim SBY berkuasa, PDIP dengan Gerindra akan menjadi koalisi nasional dalam membangun bangsa. Namun, itu semua dikacaukan oleh pihak yang disebut Arief sebagai "buto ijo." Buto ijo itu disebut ada di sekitaran Jokowi dan masih memiliki chemistry dengan kubu SBY atau Demokrat.

"Dan sebenarnya sejak rezim SBY, PDI Perjuangan dan Gerindra itu akan jadi koalisi nasional yang sangat kuat untuk membangun negara dan bangsa cuma gara-gara buto ijo-buto ijo yang bikin ngaco terus di sekitaran Kangmas Joko Widodo," ujar Arief kepada Okezone, Selasa (14/5/2019).

Saat didesak soal "buto ijo" yang dimaksud, Arief hanya menjelaskan bahwa "buto ijo" itu ada di sekitar Jokowi dan masih satu chemistry dengan "buto ijo" yang ada di kubu SBY atau Demokrat. Ia hanya memberi sinyal kalau "buto ijo" itu tokoh yang tidak punya partai politik.

"Ya itulah "buto ijo" itu tokoh yang enggak punya lartai tapi ada di sekitaran Kangmas Joko Widodo dan masih satu chemistry sama "buto ijo" yang ada di Cikeas," katanya.

SBY

(Baca Juga: BPN: Polisi Terlalu Gampang Tangkapi Pendukung Prabowo-Sandi)

Megawati, sambung Arief, justru lebih bisa berkomunikasi dengan Ketua Umum Gerindra sekaligus capres 02 Prabowo Subianto, ketimbang dengan SBY. Apalagi, Megawati belum pernah menyatakan di depan umum bahwa SBY adalah sahabatnya. Namun, Megawati pernah mengatakan bersahabat dengan Prabowo.

Atas dasar itulah, Arief berkeyakinan bahwa Demokrat tak akan mulus diterima bergabung dengan koalisi pemerintah apabila angkat kaki dari Koalisi Adil Makmur.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini