Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Cerita di Balik Masjid Sunda Kelapa yang Tak Berkubah

Fadel Prayoga , Jurnalis-Sabtu, 18 Mei 2019 |15:02 WIB
Cerita di Balik Masjid Sunda Kelapa yang Tak Berkubah
Masjid Sunda Kelapa di kawasan Menteng, Jakarta Pusat (Foto: Fadel Prayoga/Okezone)
A
A
A

MASJID Agung Sunda Kelapa yang berlokasi di Jalan Taman Sunda Kelapa Nomor 16, Menteng, Jakarta Pusat, memiliki keunikan sendiri dibanding masjid lainnya. Ya, tempat ibadah umat Islam itu tidak mempunyai kubah seperti masjid pada umumnya.

Terlihat atap masjid yang diresmikan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada tahun 1970 itu terbuat dari beton datar.

Desain tersebut sengaja dibentuk seperti itu agar terkesan tidak terpaku dengan simbol Timur Tengah yang kerap menjadi harga mati untuk arsitektur masjid.

"Memang desain awalnya seperti ini," kata Kepala Bidang Usaha Masjid Agung Sunda Kelapa, Sudjasmanur saat berbincang dengan Okezone, belum lama ini.

Masjid itu dibangun atas prakarsa Ir Gustaf Abbas sekira tahun 1960-an. Desain masjid mengikuti gaya yang berkembang pada masa itu. Konsep modern, praktis, dan sederhana dalam memilih bentuk pintu, jendela, maupun aksesoris.

Interior Masjid Sunda Kelapa

Terlihat dari eksterior bangunan masjid ini lebih mengutamakan struktur beton pada pilar, gapura, dan atap. Demikian pula model lampu taman, anak tangga, maupun taman di pintu masuk utamanya.

Menara yang ada pun sangat unik. Bentuk bangunannya mirip perahu, sebagai simbol pelabuhan Sunda Kelapa tempat saudagar muslim berdagang dan menyebarkan syariat Islam pada masa lalu.

Masuk ke dalam gerbang utama, jamaah langsung bisa melihat gapura indah yang terukir aksara Arab berwarna emas dikombinasikam putih. Saat tiba di tempat salat, corak seni kaligrafi Arab memenuhi dinding ruangan. Tak terkecuali di sisi mihrab. Lafaz Allah dan Muhammad terukir indah, mengapit tempat imam memimpin salat itu. Rak-rak Alquran tertata rapi di sekeliling ruang ibadah itu.

"Sampai sekarang tidak ada modifikasi baik interior maupun eksterior," katanya.

Interior Masjid Sunda Kelapa

Sudjasmanur menjelaskan, fasilitas yang ditambah ialah pembangunan toilet untuk pria dan wanita yang terletak di belakang masjid. Kata dia, dahulu kamar mandi hanya tersedia di dekat tangga depan masjid yang memiliki luas lahan sekira 9.920 meter.

"Jadi, dulu toilet cuma ada di bawah tangga saja. Ini sumbangan dari Bosowa, yang satu lagi dari kas Masjid Agung Sunda Kelapa. Renovasi sama sekali enggak ada," katanya.

Untuk keyamanan ibadah, lanjutnya, dilengkapi dengan tempat penitipan sepatu yang siap digunakan untuk 300 pasang, keran wudhu berjumlah 72, kakus duduk sebanyak 30, AC, dan kipas angin.

Selain itu disediakan pula layar lebar CCTV bagi yang tidak bisa melihat khatib Jumat secara langsung, dengan sound system yang terbilang modern. Tempat parkirnya mampu menampung 500 mobil dan atau 600 motor.

Infografis Lipsus Masjid

Di balik nilai sejarah dari masjid itu patut disayangkan karena Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta kurang memerhatikan keberadaannya. Selama ini, kata dia, pihaknya tak pernah mendapatkan kucuran dana dari Pemprov DKI untuk melakukan pemugaran.

Ia menjelaskan, setiap pihaknya melakukan renovasi dana tersebut berasal dari donatur dan sumbangan para jamaah yang datang. "Tidak ada (pemberian dana dari Pemprov DKI-red), kami ini mandiri," ujarnya menegaskan.

(Rizka Diputra)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement