nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bomber Pospam Kartosuro Diyakini Tak Beraksi Sendiri

Taufik Budi, Jurnalis · Sabtu 08 Juni 2019 07:03 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 07 512 2064403 bomber-pospam-kartosuro-diyakini-tak-beraksi-sendiri-T3YwHlgAGg.jpg Foto Ilustrasi Okezone

SEMARANG - Rofik Asharudin (22) tersangka teror bom bunuh diri yang menyasar Pos Pengamanan (Pospam) Lebaran di Tugu Kartosuro, Sukoharjo, diyakini tak beraksi sendiri. Pelaku sengaja dibentuk melalui proses doktrin untuk menjadi bomber dengan melakukan amaliyah.

"Kalau saya mengatakan tidak (lone wolf/beraksi sendiri) tidak sesederhana itu. Orang tidak melakukan lone wolf dengan gegap gempita seperti itu, tentu ada indoktrinasi yang sampai pada proses amaliyah," jelas peneliti terorisme, Najahan Musyafak kepada Okezone, Sabtu (8/6/2019).

 Lokasi Bom Bunuh Diri

Pengamat gerakan terorisme, Fathali M. Moghaddam, menyebutkan terdapat beberapa tahapan yang dilalui oleh orang atau kelompok radikal Islam sebelum bermetaformosis menjadi teroris. Berawal dari kekecewaan karena merasa sebagai kelompok teraniaya, mereka pada akhirnya memutuskan amaliyah berupa aksi bom bunuh diri sebagai jalan jihad.

"Kalau saya kutip teorinya Moghaddam itu ada lima tahapan. Nah lima ini sudah sampai tahapan ke-5 sudah terakhir, amaliyah itu terakhir," beber dosen Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang itu.

"Yang pertama itu dari sisi kekecewaan, kemudian dari sisi indoktrinasi, aktualisasi, kemudian kesiapan, dan baru amaliyah. Ini kan melalui proses-proses yang tidak bisa dijalani dalam waktu satu bulan. Untuk bisa meyakinkan itu butuh waktu proses agak panjang, apakah setahun atau berapa," terangnya lagi.

 

Menurutnya, pada proses doktrinasi itu akan bisa mengurai jaringan yang diikuti. Pelaku mendapat penguatan-penguatan yang dilakukannya benar, dan menganggap golongan di luar kelompok mereka terutama aparat keamanan halal dibunuh. Puncaknya, berani mengambil risiko aksi bom bunuh diri.

"Nah interaksi dengan orang inilah yang kemudian membuat dia yakin bahwa yang dilakukan itu benar. Dia berani yang dilakukan itu punya risiko, ini butuh sebuah psikologi empowerment. Secara psikologis dia butuh penguatan-penguatan dari berbagai sisi," cetusnya.

"Bagaimana nasib orangtuanya nanti (setelah bom bunuh diri) itu kan tidak difikirkan. Tapi dia kan sudah madep mantep, dalam kacamata kuda melakukan itu. Ini luar biasa yang mendoktrin itu," tandasnya.

 Lokasi Bom Bunuh Diri

(wal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini