TAHUN 1610, kota Jayakarta ditaklukkan dan jatuh ke tangan Belanda. Nama Jayakarta diganti menjadi Batavia.
Mengutip Ensiklopedia Jakarta (Eni Setiati,dkk, 2009). Belanda membangun Batavia dengan struktur kota mirip dengan Amsterdam. Kota ini dikelilingi dengan tembok pengaman untuk melindungi serangan dari musuh (tentara Mataram Islam).
Rumah dibangun dalam bentuk blok-blok yang dipisahkan dengan kanal dan jalan-jalan. Kota ini dibagi menjadi dua sisi, dipisahkan oleh sungai Ciliwung, yang kini dikenal dengan sebutan Kali Besar. Pada sisi sebelah timur, terdapat kastil Batavia dan gudang-gudang besar.
Kali Besar merupakan kawasan pusat perputaran roda ekonomi saat itu. Citra Batavia sebagai pusat kantor perdagangan hingga kini tak pudar. Masih banyak dijumpai bangunan-bangunan yang berasal dari abad ke-18 di kawasan tersebut.

Kawasan kota lama ini berawal dari pelabuhan bernama Sunda Kelapa. Sunda Kelapa telah ada sejak awal abad ke-14, sebagai kota pelabuhan kerajaan Sunda Pajajaran. Nama Sunda Kelapa kemudian diubah menjadi Jayakarta oleh Fatahillah dan setelah dikuasai VOC, berganti nama menjadi Batavia. Sejauh itu, kota ini berangsung-angsur berkembang dalam segala aspek, luas wilayah, pemerintahan, sosial politik, penduduk dan seni budayanya.
Sayangnya, bangunan-bangunan tua yang menyimpan banyak cerita bersejarah, kini sebagian kondisinya tidak terawat. Pemda DKI Jakarta memang tengah mengupayakan revitalisasi kota tua Jakarta. Program revitalisasi ini dilakukan sebagai salah satu upaya menarik minat wisatawan mancanegara maupun dalam negeri untuk menikmati salah satu warisan masa lalu.
