nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sjamsul Nursalim dan Istrinya Berpotensi Jadi Buronan KPK jika Tidak Kooperatif

Arie Dwi Satrio, Jurnalis · Rabu 12 Juni 2019 10:21 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 06 12 337 2065538 sjamsul-nursalim-dan-istrinya-berpotensi-jadi-buronan-kpk-jika-tidak-kooperatif-y3rB9qOa6m.jpg Juru Bicara KPK Febri Diansyah. (Foto: Okezone)

JAKARTA – Pemegang saham pengendali ‎Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI), Sjamsul Nursalim dan istrinya Itjih, berpotensi masuk daftar pencarian orang (DPO) alias menjadi buronan jika tidak kooperatif memenuhi panggilan pemeriksaan Tim Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

"Ketika seseorang dipanggil (untuk) datang, tapi dia tidak bias, dikategorikan misalnya sebagai DPO, atau red notice, atau yang lain-lainnya," kata Juru Bicara KPK Febri Diansyah di kantornya, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Rabu (12/6/2019).

(Baca juga: Kuasa Hukum Anggap Penetapan Tersangka Sjamsul Nursalim Janggal)

Diketahui, Sjamsul Nursalim dan Itjih saat ini sudah permanent resident (menetap) di Singapura. KPK telah berulang kali memberikan surat panggilan pemeriksaan saat proses penyelidikan, namun keduanya mangkir alias tidak pernah hadir.

KPK berencana memanggil kembali Sjamsul Nursalim dan Itjih sebagai tersangka kasus dugaan korupsi penerbitan Surat Keterangan Lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) terhadap obligor BDNI. Tetapi, belum diketahui kapan keduanya akan dipanggil lagi.

Sjamsul Nursalim. (Foto: Ist)

"Proses penyidikan perlu kita lakukan. Nanti dibutuhkan pemanggilan tersangka, maka akan dipanggil. Jadi kita belum bisa bicara soal seseorang menjadi buronan sebelum dipanggil," terang Febri.

Sebelumnya, KPK telah mengumumkan secara resmi penetapan tersangka terhadap pemegang saham Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI) Sjamsul Nursalim beserta istrinya Itjih. Keduanya dijerat terkait kasus dugaan korupsi penerbitan SKL BLBI.

(Baca juga: KPK Bakal Tempuh Kerjasama Internasional untuk Periksa Sjamsul Nursalim)

Sjamsul dan istrinya disebut melakukan tindak pidana korupsi bersama-sama dengan mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Syafruddin Arsyad Tumenggung. Sjamsul Nursalim dan istrinya diduga sebagai pihak yang diperkaya sebesar Rp4,58 triliun.

Atas perbuatannya, Sjamsul Nursalim dan Itjih disangkakan melanggar Pasal 2 Ayat (1) atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU 20/2001 tentang Pemberantasan Tipikor juncto Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP.

(han)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini