nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Tak Diterima di SMA Negeri karena Sistem Zonasi, Siswa Ini Mogok Makan Tiga Hari

Ade Putra, Jurnalis · Kamis 27 Juni 2019 01:01 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2019 06 27 340 2071369 tak-diterima-di-sma-negeri-karena-sistem-zonasi-siswa-ini-mogok-makan-tiga-hari-V6Po4wBdvJ.jpg Foto: Ist

PONTIANAK - Sistem zonasi dalam penerimaan siswa baru terus berpolemik. Termasuk di Kalimantan Barat sendiri. Bahkan ada calon siswa yang sampai stres dan mengurung diri di kamar lantaran tidak diterima di SMA Negeri yang didambakan.

Hal itu diungkapkan, KG satu diantara puluhan orangtua/wali calon siswa di Kota Pontianak saat mengadukan nasib ke DPRD Provinsi Kalimantan Barat, Rabu (26/6/2019).

Puluhan orangtua/wali calon siswa ini mendatangi gedung wakil rakyat yang berada di Jalan Ahmad Yani itu untuk meminta solusi pasca anak-anak mereka tidak bisa masuk SMA Negeri di Pontianak. Karena terbentur aturan sistem zonasi yang diterapkan pemerintah.

(Baca Juga: Sistem Zonasi Harus Perhatikan Infrastruktur Sekolah)

Dalam pertemuan itu, KG yang tinggal di kelurahan Sungai Beliung, Kecamatan Pontianak Barat tersebut menyampaikan bahwa cucunya stres karena frustasi setelah dinyatakan tidak bisa masuk SMA Negeri yang ada.

Bahkan, juga tidak diterima di SMA Negeri 2 yang jarak antara rumahnya dengan sekolah sekitar 3 kilometer lebih. Karena hal itulah cucu KG mengurung diri di kamar dan tidak mau makan.

"Cucu saya sudah tiga hari tidak keluar kamar dan tidak mau makan. Dia stres karena tidak bisa masuk SMA Negeri. Tiga hari tidak mau makan itukan mau bunuh diri," kata KG saat diwawancarai sejumlah wartawan usai mengadu ke DPRD Provinsi Kalbar.

Ilustrasi PPDB

KG menceritakan, bahwa kondisi cucunya semakin drop saat banyak teman-temannya mengejek. Ejekan itu menyebutkan, bahwa percuma memiliki nilai bagus tapi tidak diterima. Namun, mending bodoh, asal bisa diterima di sekolah keinginan karena rumah dekat sekolah.

"Ejekan itu yang membuat cucu saya semakin stres. Sedangkan nilai cucu saya bagus. Rata-rata di atas delapan," tutur KG.

Ia juga menyesalkan kenapa di Pontianak Barat hanya ada satu SMA Negeri. Padahal penduduknya paling banyak dari lima kecamatan lainnya yang ada di Kota Pontianak.

Sementara itu, anggota DPRD Kalbar, Mad Nawir yang menerima puluhan orangtua/wali calon siswa menyampaikan bahwa sistem zonasi sebenarnya dari sisi tujuan dan semangat sangat baik.

(Baca Juga: Soal Sistem Zonasi PPDB, Wapres JK: Supaya Ada Pemerataan)

Pemikiran awalnya penerapan zonasi untuk mengakomodir bagaimana anak-anak yang tidak berprestasi dan tidak mampu bisa masuk di sekolah negeri. Kendati demikian, ia memastikan sistem zonasi masih belum siap untuk diterapkan di Kalbar untuk saat ini.

"Menurut saya, untuk saat ini dan dua tahun ke depan, sebetulnya sistem zonasi belum bisa diterapkan di Kalimantan Barat. Bayangkan saja, pemerataan pembangunan masih belum terjadi," ucap Mad Nawir.

Ia mencontoh, di Kecamatan Pontianak Utara hanya ada satu SMA Negeri. Dengan jumlah penduduk terbesar kedua di Kota Pontianak, setelah Pontianak Barat. Kalau sistem zonasi dipaksakan untuk diterapkan, akibatnya anak di Kecamatan Pontianak Utara tidak akan bisa diterima di sekolah negeri.

"SMA di Pontianak Utara mungkin hanya bisa menyerap siswa di daerah Batulayang dan Siantan Hilir. Maka sisanya tidak akan bisa sekolah. Solusi jangka pendek yang harus dilakukan pemerintah, mengeluarkan kebijakan agar memberikan peluang yang besar kepada siswa yang berprestasi ataupun membuka ruang kelas baru untuk mengakomodir siswa yang tidak tertampung," ujar Mad Nawir.

Solusi jangka pendek lainnya, bisa saja pemerintah mensubsidikan sekolah swasta. Bahkan jika bisa sekolah swasta harus digratiskan. "Sementara untuk solusi jangka panjangnya pemerintah menambah jumlah sekolah (negeri, red)," tutupnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini