Advertisement
Advertisement
Advertisement
INFOGRAFIS INDEKS
Advertisement

Ini Cara Mencegah Polarisasi Masyarakat Usai Pilpres 2019

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Jum'at, 28 Juni 2019 |22:45 WIB
Ini Cara Mencegah Polarisasi Masyarakat Usai Pilpres 2019
Ilustrasi pemilihan umum. (Foto: Timotius/Antaranews)
A
A
A

Tak Boleh Kalahkan Check and Balances

Pengamat politik dari Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, Asrinaldi, mengingatkan rekonsiliasi tidak boleh mengompromikan prinsip checks and balances dalam menjalankan pemerintahan.

"Rekonsiliasi bukan berarti dalam penyelenggaraan pemerintahan yang dibentuk Jokowi nanti, semua elemen yang berkontestasi dilibatkan dalam pemerintahan. Itu juga tidak baik untuk demokrasi," kata Asrinaldi kepada Nuraki Aziz yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

"Pak Prabowo dengan Gerindra yang cukup banyak suaranya di DPR bisa memainkan peran lain, dalam hal ini kalau kita bicara demokrasi tentu ada prinsip checks and balances. Ini yang harus dimainkan," tambahnya.

Akar Rumput Mengekor Elite?

Sembilan orang meninggal dunia dalam unjuk rasa yang diwarnai kericuhan pada Mei lalu setelah Komisi Pemilihan Umum (KPU) menyatakan bahwa pemilihan presiden dimenangkan Jokowi-Ma'ruf Amin.

Digelar aksi unjuk rasa saat pembacaan putusan oleh MK pada Kamis 27 Juni 2019, namun aksi ini berjalan damai. Massa membubarkan diri sekira pukul 17.30 WIB.

Tidak lama setelah MK selesai membacakan putusan, Prabowo menyatakan pihaknya menghormati MK yang menolak seluruh gugatannya.

Jadi, apakah keputusan MK yang secara hukum sudah final ini akan dipatuhi masyarakat di akar rumput?

Pemilu. (Foto: Okezone)

Sumatera Barat adalah salah satu provinsi yang sebagian besar pemilihnya mendukung Prabowo.

Asrinaldi mengatakan meskipun para pendukung Prabowo mungkin kecewa dengan putusan MK, namun elite pendukung Prabowo bisa melakukan sesuatu untuk menjaga agar "situasi di lapangan tetap kondusif".

"Harus ada upaya oleh Prabowo dan elite-elite lain di sekeliling Prabowo untuk meyakinkan para pendukung yang di bawah itu bahwa kontestasi sudah berakhir," kata Asrinaldi.

Ahmad Atang, dosen ilmu politik di Universitas Muhamadiyah Kupang, Nusa Tenggara Timur, mengatakan kegaduhan yang terjadi baik di elite maupun akar rumput biasanya akan berakhir dengan perdamaian.

"Dalam kultur politik Indonesia, biasanya eskalasi politik itu selalu muncul di proses. Tetapi ketika keputusan telah diambil, keputusan hukum telah menetapkan siapa menjadi pemenang, itu kemudian berakhir dengan happy ending," ujar Ahmad.

(Hantoro)

News Okezone memberikan berita terkini dengan akurat dan terpercaya. Ikuti informasi terbaru tentang politik, sosial, dan peristiwa penting lainnya, langsung dari sumber yang terpercaya.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita news lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement