Menerka Peluang Gerindra, Demokrat, PAN dan PKS Gabung Koalisi Jokowi

Arie Dwi Satrio, Okezone · Rabu 03 Juli 2019 06:30 WIB
https: img.okezone.com content 2019 07 03 605 2073937 menerka-peluang-gerindra-demokrat-pan-dan-pks-gabung-koalisi-jokowi-Y9tlfUEwqz.jpg Ketum Gerindra Prabowo Subianto, Presiden PKS Sohibul Iman dan Ketum PAN Zulkifli Hasan (Foto: Okezone)

JAKARTA - Pengamat politik asal Universitas Padjadjaran Bandung, Idil Akbar berpandangan celah Partai Gerindra untuk berkoalisi dengan partai pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) lebih besar ketimbang tiga partai politik oposisi lainnya. Meskipun, Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat sudah lebih dulu menjalin komunikasi dengan Jokowi.

"Kalau saya lihat siapa yang berpeluang, saya katakan Gerindra yang paling berpeluang," ujar Idil saat berbincang dengan Okezone, Rabu (3/7/2019).

Berdasarkan analisa Idil, ada kendala yang paling mendasar antara Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri dengan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk dapat berkoalisi.

"Kendala pokok itu adalah hubungan kepartaian antara ketum PDIP dan Demokrat masih belum clear. Masih ada perang dingin antara Megawati dengan SBY. Dan itu agak sedikit sulit, karena bagaimanapun kita harus sadar bahwa Jokowi berasal dari PDIP dan problem utama ketum menjadi salah satu pertimbangan untuk kenapa Demokrat agak sulit masuk," ujarnya.

Baca Juga: Pertemuan Jokowi dan Prabowo Tinggal Tunggu Momentum

Sementara PAN, tekan Idil, masih ada sosok di belakang layar yang menolak jika partai pimpinan Zulkifli Hasan tersebut berkoalisi dengan Jokowi. Sosok tersebut, dikatakan Idil, adalah Amien Rais sebagai sosok yang cukup berpengaruh di PAN.

"Dan sejauh ini, Amien Rais belum clear permasalahan dengan koalisi. Amien Rais masih kekeuh menolak PAN bergabung dengan Jokowi. Maka itu juga saya kira masalah utama," katanya. 

Sedangkan PKS, kata Idil, merupakan partai oposisi yang paling sulit untuk merapat ke pemerintahan Jokowi. Idil melihat ada perbedaan ideologi serta pemahaman antara PKS dengan koalisi Jokowi dalam membangun pemerintahan.

"Dan seringkali PKS dalam beberapa kasus juga termasuk partai yang sedikit liar dalam konteks berkoalisi. Jadi susah untuk dipegang. Karena mereka punya keputusan sendiri dalam mengambil keputusan," katanya.

Prabowo

Menurut Idil, Partai Gerindralah yang paling besar kemungkinannya bisa berkoalisi dengan pemerintahan Jokowi. Sebab, Partai Gerindra menganut ideologi yang mirip dengan sejumlah partai koalisi.

"Nah, Gerindra yang berpeluang besar. Dari sisi ideologi tidak masalah dengan koalisi. Mereka lebih menaruh pada kebangsaan ‎bukan keagamaan. Kedua, faktor hubungan Prabowo dengan parpol di koalisi saya kira sebenarnya tidak masalah apapun, hanya perbedaannya pada capres saja. Selesai capres semuanya selesai," ujarnya.

Baca Juga: Jokowi ke Pendukungnya: Tinggi Tidak Usah Merasa Besar, Rendah Tidak Usah Merasa Kecil

Sebelumnya, Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah resmi menetapkan Joko Widodo (Jokowi) dan Ma'ruf Amin sebagai presiden dan wakil presiden terpilih periode 2019 - 2024. Prabowo pun telah membubarkan koalisi Indonesia Adil dan Makmur pasca-adanya keputusan tersebut.

(Ari)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini