nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

15 Tahun Lumpuh, Sarpudin Curhat Tak Rasakan Program Kesejahteraan Pemerintah

Antara, Jurnalis · Sabtu 06 Juli 2019 01:03 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 05 340 2075279 15-tahun-lumpuh-sarpudin-curhat-tak-rasakan-program-kesejahteraan-pemerintah-TiIzVqqYZh.JPG Sarpudin, 15 tahun alami kelumpuhan butuh uluran tangan (Foto: Antaranews)

JAMBI - Sarpudin, warga Desa Bajubang Laut, Kabupaten Batanghari, Jambi, alami kelumpuhan sejak 15 tahun silam akibat kecelakaan lalu lintas. Dia berasal dari keluarga tidak mampu. Alhasil, dirinya hanya mengharap bantuan dari para dermawan untuk biaya pengobatan sekaligus menyambung hidup sehari-hari.

“Suami saya Sarpudin ini pada tahun 2003 kecelakaan di jalan nes, sampai saat ini suami saya alami lumpuh total, setiap hari aktivitasnya hanya terbaring di atas kasur,” kata Indrawati, Istri Sarpudin, mengutip dari laman Antaranews, Jumat (5/7/2019).

Pasca-kecelakaan seluruh syaraf dan otot-otot Sarpudin tidak lagi berfungsi, sehingga Ia hanya terbaring lemah di atas kasur. Sejak saat ini istri Sarpudin, Indrawati lah yang bekerja melengkapi kebutuhan rumah tangga dan merawat Sarpudin.

Begitu pula untuk biaya pendidikan anaknya, sejak anaknya menduduki bangku sekolah dasar hingga bangku perkuliahan, Indrawati harus bekerja memenuhi kebutuhan biaya pendidikan anaknya.

Saat ini dia hanya bisa berjualan minyak eceran untuk menghidupi keluarganya, dengan keadaan tersebut kondisi ekonomi tidak bisa membaik, bahkan untuk makan pun Sarpudin di bantu oleh teman dan kerabat dekatnya.

Jika dilihat keadaan perekonomiannya, keluarga Sarpudin masuk dalam kategori masyarakat miskin. Namun tak satupun program kesejahteraan masyarakat yang digulirkan oleh pemerintah bisa dirasakan oleh mereka.

Kartu Indonesia Sejahtera

Baik itu program Kartu Indonesia Sejahtera (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), hingga program-program peningkatan kesejahteraan masyarakat lainnya tak pernah dirasakan oleh keluarga Sarpudin.

“Kita itu sebenarnya juga mau merasakan bantuan dari pemerintah, jangankan untuk kebutuhan berobat, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja tidak dapat,” ucap Sarpudin.

Saat ini pria kelahiran tahun 1968 tersebut hanya bisa pasrah. Sebab, berbagai upaya telah ditempuh untuk mengobati kelumpuhan yang dialaminya, namun hasilnya masih nihil.

Ia hanya berharap anaknya yang kini tengah menjalani pendidikan di salah satu perguruan tinggi di daerah itu dapat menyelesaikan pendidikannya dan segera mendapatkan pekerjaan yang layak.

(put)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini