GUNUNGKIDUL – Kekeringan di Kabupaten Gunungkidul meluas dan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat dari sebanyak 18 kecamatan yang ada di Gunungkidul, sudah 14 kecamatan mengalami krisis air bersih. Dari sebanyak 14 kecamatan penduduk yang terdampak krisis air mencapai lebih dari 100.000 jiwa.
“Total warga yang terkena dampak kekeringan 105.234 jiwa dan meningkat dibanding akhir bulan lalu yang hanya mencapai sekitar 90 ribu lebih,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki, mengutip krjogja, Jumat (5/7/2019).
Adapun rincian jumlah warga terdampak kekeringan untuk masing-masing Kecamatan Girisubo sebanyak 21.592 jiwa, Paliyan 16.978 jiwa, Purwosari 4.032 jiwa, Rongkop 9.902 jiwa, Tepus 12.441 jiwa, Ngawen 3.032, Ponjong 2.411 jiwa, Semin 1.192 jiwa, Patuk 2.962 jiwa, Semanu 1.968 jiwa, Panggang 8.986 jiwa dan Kecamatan Gedangsari sebanyak 3.448 jiwa. Sementara untuk Kecamatan Tanjungsari terdapat sebanyak 11.186 jiwa, dan Kecamatan Nglipar sebanyak 5.100 jiwa.

Untuk Kecamatan Saptosari, Playen, Wonosari, dan Karangmojo baru terdapat beberapa RT yang terkena dampak kekeringan, misalnya di Wonosari terjadi di Desa Wunung. “Karena di sana meskipun terdapat sambungan proyek air milik desa (SPamdes) tetapi sedang bermasalah dan membutuhkan bantuan air bersih,” imbuhnya.