nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kekeringan, 14 Kecamatan di Gunungkidul Krisis Air Bersih

Agregasi KR Jogja, Jurnalis · Jum'at 05 Juli 2019 09:19 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 05 510 2074893 kekeringan-14-kecamatan-di-gunungkidul-krisis-air-bersih-HAXLk9XdJp.jpg Ilustrasi (Dok Okezone)

GUNUNGKIDUL – Kekeringan di Kabupaten Gunungkidul meluas dan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat dari sebanyak 18 kecamatan yang ada di Gunungkidul, sudah 14 kecamatan mengalami krisis air bersih. Dari sebanyak 14 kecamatan penduduk yang terdampak krisis air mencapai lebih dari 100.000 jiwa.

“Total warga yang terkena dampak kekeringan 105.234 jiwa dan meningkat dibanding akhir bulan lalu yang hanya mencapai sekitar 90 ribu lebih,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edy Basuki, mengutip krjogja, Jumat (5/7/2019).

Adapun rincian jumlah warga terdampak kekeringan untuk masing-masing Kecamatan Girisubo sebanyak 21.592 jiwa, Paliyan 16.978 jiwa, Purwosari 4.032 jiwa, Rongkop 9.902 jiwa, Tepus 12.441 jiwa, Ngawen 3.032, Ponjong 2.411 jiwa, Semin 1.192 jiwa, Patuk 2.962 jiwa, Semanu 1.968 jiwa, Panggang 8.986 jiwa dan Kecamatan Gedangsari sebanyak 3.448 jiwa. Sementara untuk Kecamatan Tanjungsari terdapat sebanyak 11.186 jiwa, dan Kecamatan Nglipar sebanyak 5.100 jiwa.

Kekeringan di Cirebon

Untuk Kecamatan Saptosari, Playen, Wonosari, dan Karangmojo baru terdapat beberapa RT yang terkena dampak kekeringan, misalnya di Wonosari terjadi di Desa Wunung. “Karena di sana meskipun terdapat sambungan proyek air milik desa (SPamdes) tetapi sedang bermasalah dan membutuhkan bantuan air bersih,” imbuhnya.

Diakui, meskipun sebagian desa terkena dampak kekeringan tidak seluruhnya menunggu bantuan air dari BPBD. Hanya enam kecamatan yakni Purwosari, Girisubo, Rongkop, Tepus, Paliyan dan Panggang yang diberikan bantuan air bersih. Untuk sisanya diberikan bantuan air bersih melalui kecamatan masing-masing.


Baca Juga : BMKG Keluarkan Peringatan Potensi Kekeringan Panjang hingga Ekstrem di Indonesia

Sementara droping air bersih dilakukan dari kecamatan jika anggaran mereka habis baru akan mengajukan melalui BPBD. Dengan semakin meluasnya wilayah kekeringan mulai akhir Juni lalu banyaknya bantuan berdatangan dari pihak ketiga. “Semua bantuan dari pihak manapun tetap terinventarisir di BPBD,” ucapnya.

Camat Tanjungsari, Rakhmadian Wijayanto mengatakan dari 5 desa yang ada di wilayahnya, yang sudah mengalami kekeringan hanya di daerah-daerah tertentu. Pasalnya, terdapat sejumlah di wilayahnya yang sudah terjangkau layanan perusahaan daerah air minum.

“Akibat memiliki ketinggian geografis jaringan air tidak bisa mengaliri sambungan pipa ke lereng perbukitan dan solusinya mereka terpaksa membeli dari swasta dan mengandalkan bantuan dari pemerintah,” tuturnya.


Baca Juga : Dampak Kekeringan, Tanaman Padi di Gunungkidul Dijadikan Pakan Ternak

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini