PA 212 Kecewa Prabowo Bertemu Jokowi, Pengamat Usulkan Ini

Sarah Hutagaol, Jurnalis · Senin 15 Juli 2019 13:37 WIB
https: img.okeinfo.net content 2019 07 15 605 2079040 pa-212-kecewa-prabowo-bertemu-jokowi-pengamat-usulkan-ini-bOee2eI8U9.jpg Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto Bertemu di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta (foto: Ist)

JAKARTA - Pengamat politik dari LIPI, Siti Zuhro mengungkapkan beberapa hal yang harus dilakukan oleh Prabowo Subianto untuk meredam kekecewaan para pendukung, salah satunya yang datang dari Persaudaraan Alumni (PA) 212 karna pertemuannya dengan Jokowi.

Siti Zuhro menyebutkan hal yang pertama harus dilakukan Prabowo adalah mengajak para pendukungnya untuk berdialog. Dari situ, mantan capres tersebut menjelaskan kepada pendukungnya mengenai disharmoni yang harus diselesaikan di dalam masyarakat Indonesia.

Baca Juga: Apresiasi Pertemuan Jokowi-Prabowo, Presidium Alumni 212: Pemerintah Representasi Masyarakat 

Bertemu Prabowo, Jokowi: Tidak Ada Lagi 01 & 02 Apalagi Cebong-Kampret

“Oleh karena itu ya harus ada semacam musyawarah sama mereka. Berdialog, berbincanglah dengan mereka,” ujar Siti Zuhro kepada Okezone, Senin (15/7/2019).

“Bahwa ditarik ke tataran makro, ada kebutuhan tentang isu masalah krusial kita adalah kebangsaan, dan keumatan. Lalu bagaimanan kita menyelesaikan disharmoni ini di rezim Pak Jokowi. Pelibatan secara atensi, gagasan dari mereka,” paparnya.

Dalam perbincangan yang seharusnya dilakukan tersebut, Prabowo bisa memberikan penjelasan kepada para pendukungnya mengenai posisi ketua umum Partai Gerindra sebagai oposisi meskipun telah bertemu dengan Jokowi.

“Oke katakan Pak Prabowo saya akan konsisten sejak lahir Gerindra ini ada di oposisi, kan gitu. Lah kalau ada bincang-bincang yang jelas, mungkin akan meredakan,” terang Siti Zuhro.

Baca Juga: PA 212 Kecewa Prabowo Bertemu Jokowi, Gerindra: Sandiaga Saja Tidak Diberi Tahu 

Maka dari itu, Siti Zuhroh berharap kalau Prabowo bisa memperlihatkan sosok pemimpin bagi pendukungnya yang bisa meneduhkan, dan mendamaikan terhadap kekecewaan yang dilanda oleh para pendukungnya.

“Jadi kita harus mendekatinya secara psikis, secara psikologi politik. Ini yang diperlukan memang peran-peran kepemimpinan di situ, peran-peran kepemimpinan yang meneduhkan, yang mendamaikan, supaya disharmoni masyarakat ini terus berkurang,” tuturnya.

(fid)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini