nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Musim Kemarau, Warga Sragen Gali Bebatuan di Sungai Kering Cari Air Bersih

Bramantyo, Jurnalis · Sabtu 20 Juli 2019 22:33 WIB
https: img-k.okeinfo.net content 2019 07 20 512 2081514 musim-kemarau-warga-sragen-gali-bebatuan-di-sungai-kering-cari-air-bersih-ymfVlm41xJ.jpg Warga Sragen menggali bebatuan di sungai yang mengering untuk mencari air bersih. (Foto : Bramantyo/Okezone)

SRAGEN - Kekeringan dan sulitnya mendaparkan air bersih mulai dirasakan masyarakat Sragen, khususnya di bagian utara. Bukan hanya itu krisis air bersih mengancam tujuh kecamatan kabupaten Sragen.

Sebelumnya Pemkab Sragen telah memetakan ada 36 desa di 7 kecamatan yang rawan krisis air bersih saat musim kemarau. Di antaranya ada di Kecamatan Sumberlawang, Jenar, Miri, Mondokan, Tangen, dan Sukodono.

Salah satu desa yang sudah merasakan sulitnya mendapatkan air bersih adalah warga desa Dukuh, Kecamatan Tangen. Bahkan saking sulitnya untuk mencari sumber air, warga desa mulai menggali bebatuan di dasar sungai yang mengering untuk mencari sisa air yang bisa dimanfaatkan.

Hal tersebut dilakukan karena beberapa bulan terakhir ini sumur milik warga sudah mulai mengering. Sedangkan sumur yang ada di sendang, di sawah debitnya semakin menipis. Kalaupun ada masyarakat harus mencari di wilayah lain yang jaraknya lumayan jauh.

Samto (65) warga Dukuh Glagah, Desa Dukuh, Tangen mengaku saat ini warga sudah kesulitan mendapatkan sumber air bersih yang mulai mengering. Bahkan dirinya bersama warga lainnya terpaksa harus menggali sungai yang mengering untuk mendapatkan air.

"Kita gali sungai, menunggu ada resapan dan lubang galian mulai terisi air. Pertama airnya pasti keruh. Setelah didiamkan, setelah bening baru diambil airnya," ucap Samto, Sabtu (20/7/2019).

ilustrasi (Dok Okezone)

Menurut Samto, air yang didapat dari galian bebatuan sungai yang mengering bisa digunakan untuk minum dan juga mandi. Namun harus diendapkan lagi di rumah. Setelah semua kotoran mengendap baru bisa dimanfaatkan.

Ditambahkan Samto, galian di sungai itu hanya bisa diambil dua atau tiga kali saja, karena airnya juga sedikit. Jika sudah begitu warga akan berpindah lagi mencari lokasi baru dan di gali lagi.

"Makanya lokasi galian berpindah-pindah karena airnya sedikit.


Baca Juga : Lebih dari 12 Ribu KK di Jabar Kesulitan Air Bersih

Sementara itu Yadin (58) menyebut jika warga inginnya pemerintah bisa membuatkan sumur dalam agar warga tidak selalu kesulitan mendapatkan air di setiap musim kemarau tiba.

"Biar tidak njagake (mengandalkan-red) bantuan air dari pemerintah, warga berharap bisa dibuatkan sumur dalam," imbuhnya.

Kaur Umum Desa Dukuh, Ahmad Harun sebut wilayahnya merupakan langganan kekeringan setiap tahunnya. Sebanyak 1500 KK di tiga Kebayanan Sugihan, Glagah dan Dukuh selalu kesulitan air bersih. Saat ini warga tiga dusun itu mengajukan proposal untuk pembuatan sumur dalam.

"Hampir setiap tahun warga di desa kami mengandalkan bantuan droping air dari pemerintah. Harapannya kalau bisa dibuatkan sumur dalam di tiga kebayanan itu. Biar enggak nunggu bantuan air terus tiap tahun," tuturnya.


Baca Juga : 446 Desa di Jatim Rawan Kekeringan, Pemprov Lakukan Antisipasi

(erh)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini