Di Desa Kapuk Teko, anak-anak bersenang-senang di atas rakit rias daripada taman bermain, kuburan telah menghilang, dan rumah-rumah ditopang panggung untuk bersaing dengan 2 meter air.
Salah satu penduduk, Bang Jiih, mengatakan selama banjir –yang lebih sering dan parah dari sebelumnya– keluarganya dipaksa ke lantai dua, tetapi banyak warga setempat tidak memilikinya.
Pria berusia 55 tahun ini hidup dalam ketakutan bahwa salah seorang cucunya akan tenggelam dengan air yang mengelilingi rumah-rumah yang sudah merenggut nyawa dua anak.
Baca juga: Mantan Wapres AS Al Gore: Ribuan Pulau di Indonesia Termasuk Jakarta Terancam Tenggelam
Dinding laut raksasa telah dibangun di beberapa bagian pantai, tetapi tenggelam.
Pemerintah Indonesia telah menjanjikan uang besar untuk infrastruktur air, namun para peneliti mengatakan waktu hampir habis.
"Kami membutuhkan setidaknya 10 tahun untuk mengubah air tanah menjadi air permukaan dan akhirnya menghentikan surutnya," kata Profesor Andreas.

Pemerintah juga memiliki rencana yang berani untuk menciptakan ibu kota baru di pulau lain dalam upaya untuk meringankan banyak tantangan Indonesia dari pertumbuhan yang cepat.
Itu adalah ide yang telah diperdebatkan selama beberapa decade, tetapi menteri saat ini yakin menindaklanjutinya.
Baca juga: Tanggul Laut Raksasa Salah Satu Antisipasi Cegah Tenggelamnya Jakarta
Nenek Rohaeni bin Caska, salah satu warga Jakarta, mengatakan tidak terlalu memercayai prediksi para ahli terkait penurunan tanah. Sebaliknya, ia lebih percaya kepada Tuhan.
Pindah dari salah satu daerah pesisir terburuk bukan pilihan bagi Nenek Rohaeni. Alasannya, seperti banyak yang lain, dia tidak punya uang.
(Hantoro)